Pendekatan Dalam Penelitian

Leave a comment

Dalam penelitian ada 2 macam pendekatan, yakni:

1. Pendekatan Deduktif

Pendekatan deduktif adalah pendekatan secara teoritik untuk mendapatkan konfirmasi berdasarkan hipotesis dan observasi yang telah dilakukan sebelumnya. Suatu hipotesis lahir dari sebuah teori, lalu hipotesis ini diuji dengan dengan melakukan beberapa observasi. Hasil dari observasi ini akan dapat memberikan konfirmasi tentang sebuah teori yang semula dipakai untuk menghasilkan hipotesis. Langkah penelitian seperti ini biasa juga disebut pendekatan ‘dari atas ke bawah’. Pendekatan deduktif ini umumnya dilakukan secara matematik lalu dibuktikan dan dikonfirmasi kembali terhadap rumusan matematik tersebut.

2. Pendekatan Induktif

Pendekatan induktif adalah pendekatan yang dilakukan untuk membangun sebuah teori berdasarkan hasil pengamatan atau observasi. Suatu observasi yang dilakukan berkali-kali akan membentuk sebuah pola tertentu. Dari pola tersebut akan lahir hipotesis sementara atau hipotesis tentatif. Hipotesis yang terbentuk berasal dari pola pengamatan yang dilakukan. Setelah dilakukan berulang-ulang, barulah diperoleh sebuah teori. Langkah penelitian seperti ini disebut sebagai pendekatan ’dari bawah ke atas’.

Lebih lanjut, silakan download disini

Sumber:

1. cunop.files.wordpress.com

2. mpkd.ugm.ac.id

Metode Penelitian Deskriptif Studi Kasus

Leave a comment

Salah satu jenis penelitian kualitatif deskriptif adalah berupa penelitian dengan metode atau pendekatan studi kasus (Case Study). Penelitian ini memusatkan diri secara intensif pada satu obyek tertentu yang mempelajarinya sebagai suatu kasus. Data studi kasus dapat diperoleh dari semua pihak yang bersangkutan, dengan kata lain data dalam studi ini dikumpulkan dari berbagai sumber (Nawawi, 2003). Sebagai sebuah studi kasus maka data yang dikumpulkan berasal dari berbagai sumber dan hasil penelitian ini hanya berlaku pada kasus yang diselidiki. Lebih lanjut Arikunto (1986) mengemukakan bahwa metode studi kasus sebagai salah satu jenis pendekatan deskriptif, adalah penelitian yang dilakukan secara intensif, terperinci dan mendalam terhadap suatu organisme (individu), lembaga atau gejala tertentu dengan daerah atau subjek yang sempit.

Penelitian case study atau penelitian lapangan (field study) dimaksudkan untuk mempelajari secara intensif tentang latar belakang masalah keadaan dan posisi suatu peristiwa yang sedang berlangsung saat ini, serta interaksi lingkungan unit sosial tertentu yang bersifat apa adanya (given). Subjek penelitian dapat berupa individu, kelompok, institusi atau masyarakat. Penelitian case study merupakan studi mendalam mengenai unit sosial tertentu dan hasil penelitian tersebut memberikan gambaran luas serta mendalam mengenai unit sosial tertentu. Subjek yang diteliti relatif terbatas, namun variabel-variabel dan fokus yang diteliti sangat luas dimensinya (Danim, 2002 ).

Penelitian studi kasus akan kurang kedalamannya bilamana hanya dipusatkan pada fase tertentu saja atau salah satu aspek tertentu sebelum memperoleh gambaran umum tentang kasus tersebut. Sebaliknya studi kasus akan kehilangan artinya kalau hanya ditujukan sekedar untuk memperoleh gambaran umum namun tanpa menemukan sesuatu atau beberapa aspek khusus yang perlu dipelajari secara intensif dan mendalam. Disamping itu, studi kasus yang baik harus dilakukan secara langsung dalam kehidupan sebenarnya dari kasus yang diselidiki. Walaupun demikian, data studi kasus dapat diperoleh tidak saja dari kasus yang diteliti, tetapi juga dapat diperoleh dari semua pihak yang mengetahui dan mengenal kasus tersebut dengan baik. Dengan kata lain, data dalam studi kasus dapat diperoleh dari berbagai sumber namun terbatas dalam kasus yang akan diteliti tersebut (Nawawi, 2003 ).

Pengertian yang lain, studi kasus bisa berarti metode atau strategi dalam penelitian, bisa juga berarti hasil dari suatu penelitian sebuah kasus tertentu.Dalam konteks tulisan ini, penulis lebih memfokuskan pada pengertian yang pertama yaitu sebagai metode penelitian. Studi kasus adalah suatu pendekatan untuk mempelajari, menerangkan, atau menginterpretasikan suatu kasus dalam konteksnya secara natural tanpa adanya intervensi pihak luar. Pada intinya studi ini berusaha untuk menyoroti suatu keputusan atau seperangkat keputusan, mengapa keputusan itu diambil, bagaimana diterapkan dan apakah hasilnya. (Salim, 2001).

Lebih lengkap dapat Klik Disini

Beasiswa Tanoto untuk S1 dan S2 (deadline 31 Januari 2013)

2 Comments

Program Beasiswa Tanoto Foundation menyediakan kesempatan bagi  anak muda calon pemimpin bangsa, yang berprestasi yang mempunyai kendala financial untuk memperoleh pendidikan yang lebih tinggi.  Untuk menjadi pemimpin bangsa bukan hanya kecerdasan intelektual yang harus dimiliki namun ketrampilan lain seperti komunikasi, kemampuan memimpin, kemampuan manajerial merupakan faktor-faktor yang turut memegang peranan dalam keberhasilan seorang pemimpin.  Oleh karena itu selain dukungan financial, Tanoto Foundation juga membekali penerima beasiswanya dengan ketrampilan-ketrampilan yang akan berguna dalam pembentukan seorang pemimpin.

Dalam memberikan beasiswanya Tanoto Foundation bermitra dengan 7 perguruan tinggi di Indonesia yaitu Institut Pertanian Bogor, Institut Teknologi Bandung, Universitas Gadjah Mada, Universitas Indonesia, Universitas Jambi, Universitas Riau, dan Universitas Sumatera Utara.

Beasiswa Tanoto Foundation bagi jenjang S1 ditawarkan untuk mahasiswa di:

  • Institut Pertanian Bogor
  • Institut Teknologi Bandung
  • Universitas Gadjah Mada
  • Universitas Indonesia
  • Universitas Jambi
  • Universitas Riau
  • Universitas Sumatera Utara

Beasiswa Tanoto Foundation bagi jenjang S2 ditawarkan untuk mahasiswa di:

  • Institut Pertanian Bogor
  • Institut Teknologi Bandung
  • Universitas Gadjah Mada
  • Universitas Indonesia

Sejak tahun 2006, Tanoto Foundation telah menganugerahkan beasiswa kepada lebih dari 1.300 mahasiswa strata satu dan strata dua di Indonesia

PERSYARATAN UMUM

A. PROGRAM SARJANA STRATA SATU (S1)

  1. Warga Negara Indonesia
  2. Telah terdaftar sebagai mahasiswa di IPB, ITB, UGM, UI, UNJA, UNRI, dan USU
  3. Usia maksimum 21 tahun pada saat pendaftaran beasiswa
  4. Minimum IPK = 3,00 (skala 4,00). Bagi mereka yang baru duduk di tahun pertama Perguruan Tinggi, minimum nilai rata-rata raport kelas 3 SMU = 8,00 (skala 10)
  5. Membutuhkan dukungan finansial
  6. Memiliki jiwa kepemimpinan dan kepedulian serta komitmen untuk ikut memajukan bangsa Indonesia
  7. Mengisi dengan lengkap registrasi online di website Tanoto Foundation
  8. Bagi yang lulus seleksi Beasiswa Tanoto Foundation tidak diperbolehkan menerima beasiswa dari institusi lain.

B. PROGRAM SARJANA STRATA DUA (S2)

  1. Warga Negara Indonesia
  2. Telah terdaftar sebagai mahasiswa di IPB, ITB, UGM, dan UI
  3. Usia maksimum 40 tahun pada saat pendaftaran beasiswa
  4. Memiliki pengalaman kerja minimum 2 (dua) tahun, setelah menyelesaikan program S1
  5. Minimum IPK = 3,25 (skala 4,00). Bagi mereka yang baru duduk di tahun pertama jenjang pendidikan S2, minimum IPK S1 =  3,25 (skala 4,00)
  6. Memiliki jiwa kepemimpinan dan kepedulian serta komitmen untuk memajukan bangsa Indonesia
  7. Mengisi dengan lengkap registrasi online di website Tanoto Foundation
  8. Bagi yang lulus seleksi Beasiswa Tanoto Foundation tidak diperbolehkan menerima beasiswa dari institusi lain

Informasi lebih lanjut silakan buka http://tanotofoundation.org

METODE PENELITIAN KORELASIONAL

Leave a comment

oleh: Witri Annisa

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Penelitian merupakan kegiatan ilmiah yang didasarkan pada suatu masalah yang memerlukan solusi yang tepat. Dalam kehidupan selalu ada masalah, baik masalah pribadi, keluarga, masyarakat dan negara. Dari semua masalah tersebut, tidak semua masalah yang memerlukan solusi dalam bentuk kegiatan penelitian. Perbedaanya adalah pada kegiatan penyelesaian masalah. Selain masalah, komponen penting yang harus ada dalam penelitian adalah tujuan penelitian sehingga dapat ditentukan metode yang tepat untuk penyelesain masalah. Kegiatan penyelesaian masalah yang disebut penelitian dapat dilakukan secara sistematis dengan mengikuti metodologi, dikontrol, dan didasarkan teori yang ada serta diperkuat dengan gejala yang ada (Sukardi, 2004:3).

Secara umum, penelitian dapat dibedakan dari beberapa aspek, diantaranya aspek tujuan, aspek metode, aspek kajian.  Menurut Gay (dalam Sukardi, 2004:13) Aspek tujuan terdiri dari penelitian dasar dan lanjut. Aspek metode terdiri atas penelitian deskriptif, penelitian sejarah, penelitian survei, penelitian ex-postfakto, penelitian eksperimen, penelitian kuai eksperimen. Sedangkan, aspek kajian sesuai bidang garapan dapat dibagi menjadi dua, yaitu penelitian kependidikan dan penelitian nonkependidikan (Sukardi, 2004:13-16).

Masalah penelitian dapat dibagi dalam berbagai bidang diantaranya bidang pendidikan, kesehatan, sosial, ekonomi, dan lain-lain. Salah satu bidang penelitian yang memerlukan perhatian khusus adalah bidang penelitian pendidikan. Secara umum metode penyelesaian masalah pada penelitian pendidikan ada dua, yaitu metode kualitatif dan kuantitatif. Metode kualitatif yang yang pengumpulan datanya berinteraksi langsung dengan objek penelitianya dan hasilnya  tidak diperoleh melalui prosedur statistik. Sedangkan metode kuantitatif, pengumpulan datanya melalui instrumen penelitian berupa populasi dan sampel serta hasilnya diperoleh melalui prosedur statistic. Salah satu peneltian yang penting dan bermanfaat dalam dunia pendidikan adalah penelitian korelasional.

Fenomena yang terjadi dalam dunia pendidikan terdapat hubungan antarunsur-unsurnya. Seperti hubungan antara guru dengan siswa, guru dengan materi/kurikulum, materi dengan evaluasi, dan lain-lain. Hubungan-hubungan tersebut dapat diketahui tingkat korelasinya secara ilmiah secara statistik melalui metode penelitian korelasional.

B. Tujuan Penulisan

Mendeskripsikan teori penelitian korelasional dan contoh penerapan

BAB II

KAJIAN TEORI

A. Penelitian Korelasional

Penelitian korelasi atau korelasional adalah suatu penelitian untuk mengetahui hubungan dan tingkat hubungan antara dua variabel atau lebih tanpa ada upaya untuk mempengaruhi variabel tersebut sehingga tidak terdapat manipulasi variabel (Faenkel dan Wallen, 2008:328). Adanya hubungan dan tingkat variabel ini penting karena dengan mengetahui tingkat hubungan yang ada, peneliti akan dapat mengembangkannya sesuai dengan tujuan penelitian. Jenis penelitian ini biasanya melibatkan ukuran statistik/tingkat hubungan yang disebut dengan korelasi (Mc Millan dan Schumacher, dalam Syamsuddin dan Vismaia, 2009:25). Penelitian korelasional menggunakan instrumen untuk menentukan apakah, dan untuk tingkat apa, terdapat hubungan antara dua variabel atau lebih yang dapat dikuantitatifkan.

Menurut Gay dalam Sukardi (2004:166) penelitian korelasi merupakan salah satu bagian penelitianex-postfacto karena biasanya peneliti tidak memanipulasi keadaan variabel yang ada dan langsung mencari keberadaan hubungan dan tingkat hubungan variabel yang direfleksikan dalam koefisien korelasi. Selanjutnya, Fraenkel dan Wallen (2008:329) menyebutkan penelitian korelasi ke dalam penelitian deskripsi karena penelitian tersebut merupakan usaha menggambarkan kondisi yang sudah terjadi. Dalam penelitian ini, peneliti berusaha menggambarkan kondisi sekarang dalam konteks kuantitatif yang direfleksikan dalam variabel.

Penelitian korelasional dilakukan dalam berbagai bidang diantaranya pendidikan, sosial, maupun ekonomi. Penelitian ini hanya terbatas pada panafsiran hubungan antarvariabel saja tidak sampai pada hubungan kausalitas, tetapi penelitian ini dapat dijadikan acuan untuk diajadi penelitian selanjutnya seperti penelitian eksperimen (Emzir, 2009:38). Menurut Sukardi (2004:166) penelitian korelasi mempunyai tiga karakteristik penting untuk para peneliti yang hendak menggunakannya. Tiga karakteristik tersebut adalah sebagai berikut.

  1. Penelitian korelasi tepat jika variabel kompleks dan peneliti tidak mungkin melakukan manipulasi dan mengontrol variabel seperti dalam penelitian eksperimen.
  2. Memungkinkan variabel diukur secara intensif dalam setting (lingkungan) nyata.
  3. Memungkinkan peneliti mendapatkan derajat asosiasi yang signifikan.

B. Tujuan Penelitian Korelasional

Tujuan penelitian korelasional menurut Suryabrata (dalam Abidin, 2010) adalah untuk mendeteksi sejauh mana variasi-variasi pada suatu faktor berkaitan dengan variasi-variasi pada satu atau lebih faktor lain berdasarkan pada koefisien korelasi. Sedangkan menurut Gay dalam Emzir (2009:38) Tujuan penelitian korelasional adalah untuk menentukan hubungan antara variabel, atau untuk menggunakan hubungan tersebut untuk membuat prediksi. Studi hubungan biasanya menyelidiki sejumlah variabel yang dipercaya berhubungan dengan suatu variabel mayor, seperti hasil belajar variabel yang ternyata tidak mempunyai hubungan yang tinggi dieliminasi dari perhatian selanjutnya.

C. Ciri-ciri Penelitian Korelasional

1.    Penelitian macam ini cocok dilakukan bila variabel-variabel yang diteliti rumit dan/atau tak dapat diteliti dengan metode eksperimental atau tak dapat dimanipulasi.

2.    Studi macam ini memungkinkan pengukuran beberapa variabel dan saling hubungannya secara serentak dalam keadaan realistiknya.

3.    Output dari penelitian ini adalah taraf atau tinggi-rendahnya saling hubungan dan bukan ada atau tidak adanya saling hubungan tersebut.

4.    Dapat digunakan untuk meramalkan variabel tertentu berdasarkan variabel bebas.

D. Macam Penelitian  Korelasional

1.    Penelitian Hubungan

Penelitian hubungan, relasional, atau korelasi sederhana (seringkali hanya disebut korelasi saja) digunakan untuk menyelidiki hubungan antara hasil pengukuran terhadap dua variabel yang berbeda dalam waktu yang bersamaan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan tingkat atau derajat hubungan antara sepasang variabel (bivariat). Lebih lanjut, penelitian jenis ini seringkali menjadi bagian dari penelitian lain, yang dilakukan sebagai awal untuk proses penelitian lain yang kompleks. Misalnya, dalam penelitian korelasi multivariat yang meneliti hubungan beberapa variabel secara simultan pada umumnya selalu diawali dengan penelitian hubungan sederhana untuk melihat bagaimana masing-masing variabel tersebut berhubungan satu sama lain secara berpasangan.

Dalam penelitian korelasi sederhana ini hubungan antar variabel tersebut ditunjukkan oleh nilai koefisien korelasi. Nilai koofisien  korelasi merupakn suatu alat statistik yang digunakan untuk membantu peneliti dalam memahami tingkat hubungan tersebut. Nilai koefisien bervariasi dari -1,00 sampai +1,00 diperoleh dengan menggunakan teknik statistik tertentu sesuai dengan karakter dari data masing-masing variabel.

Pada dasarnya, desain penelitian hubungan ini cukup sederhana, yakni hanya dengan mengumpulkan skor dua variabel dari kelompok subjek yang sama dan kemudian menghitung koefisien korelasinya. Oleh karena itu, dalam melakukan penelitian ini, pertama-tama peneliti menentukan sepasang variabel yang akan diselidiki tingkat hubungannya. Pemilihan kedua variabel tersebut harus didasarkan pada teori, asumsi, hasil penelitian yang mendahului, atau pengalaman bahwa keduanya sangat mungkin berhubungan.

2.    Penelitian Prediktif

Dalam pelaksanaan di bidang pendidikan, banyak situasi yang menghendaki dilakukannya prediksi atau peramalan. Pada awal tahun ajaran baru, misalnya, setiap sekolah karena keterbatasan fasilitas, seringkali harus menyeleksi para pendaftar yang akan diterima menjadi calon siswa baru.

Penelitian korelasi jenis ini memfokuskan pada pengukuran terhadap satu variabel atau lebih yang dapat dipakai untuk memprediksi atau meramal kejadian di masa yang akan datang atau variabel lain (Borg & Gall dalam Abidin, 2010). Penelitian ini sebagaimana penelitian relasional, melibatkan penghitungan korelasi antara suatu pola tingkah laku yang kompleks, yakni variabel yang menjadi sasaran prediksi atau yang diramalkan kejadiannya (disebut kriteria), dan variabel lain yang diperkirakan berhubungan dengan kriteria, yakni variabel yang dipakai untuk memprediksi (disebut prediktor). Teknik yang digunakan untuk mengetahui tingkat prediksi antara kedua variabel tersebut adalah teknik analisis regresi yang menghasilkan nilai koefisien regresi, yang dilambangkan dengan R.

Perbedaan yang utama antara penelitian relasional dan penelitian jenis ini terletak pada asumsi yang mendasari hubungan antar variabel yang diteliti. Dalam penelitian relasional, peneliti berasumsi bahwa hubungan antara kedua variabel terjadi secara dua arah atau dengan kata lain, ia hanya ingin menyelidiki apakah kedua variabel mempunyai hubungan, tanpa mempunyai anggapan bahwa variabel yang muncul lebih awal dari yang lain. Oleh karena itu, kedua variabel biasanya diukur dalam waktu yang bersamaan. Sedang dalam penelitian prediktif, di samping ingin menyelidiki hubungan antara dua variabel, peneliti juga mempunyai anggapan bahwa salah satu variabel muncul lebih dahulu dari yang lain, atau hubungan satu arah. Oleh karena itu, tidak seperti penelitian relasional, kedua variabel diukur dalam waktu yang berurutan, yakni variabel prediktor diukur sebelum variabel kriteria terjadi, dan tidak dapat sebaliknya.

3.    Korelasi Multivariat

Teknik untuk mengukur dan menyelidiki tingkat hubungan antara kombinasi dari tiga variabel atau lebih disebut teknik korelasi multivariat. Ada beberapa teknik yang dapat digunakan, dua diantaranya yang akan dibahas di sini adalah: regresi ganda atau multiple regresion dan korelasi kanonik.

Regresi ganda. Memprediksi suatu fenomena yang kompleks hanya dengan menggunakan satu faktor (variabel prediktor) seringkali hanya memberikan hasil yang kurang akurat. Dalam banyak hal, semakin banyak informasi yang diperoleh semakin akurat prediksi yang dapat dibuat (Mc Millan & Schumaker dalam Abidin, 2010), yakni dengan menggunakan kombinasi dua atau lebih variabel prediktor, prediksi terhadap variabel kriteria akan lebih akurat dibanding dengan hanya menggunakan masing-masing variabel prediktor secara sendiri-sendiri. Dengan demikian, penambahan jumlah prediktor akan meningkatkan akurasi prediksi kriteria.

Korelasi kanonik. Pada dasarnya teknik ini sama dengan regresi ganda, dimana beberapa variabel dikombinasikan untuk memprediksi variabel kriteria. Akan tetapi, tidak seperti regresi ganda yang hanya melibatkan satu variabel kriteria, korelasi kanonik melibatkan lebih dari satu variabel kriteria. Korelasi ini berguna untuk menjawab pertanyaan, bagaimana serangkaian variabel prediktor memprediksi serangkai variabel kriteria? Dengan demikian, korelasi kanonik ini dapat dianggap sebagai perluasan dari regresi ganda,dan sebaliknya, regresi berganda dapat dianggap sebagai bagian dari korelasi kanonik (Pedhazur dalam Abidin, 2010). Seringkali korelasi ini digunakan dalam penelitian eksplorasi yang bertujuan untuk meentukan apakah sejumlah variabel mempunyai hubungan satu sama lain yang serupa atau berbeda.

E. Rancangan Penelitian Korelasional

Penelitian korelasional mempunyai berbagai jenis rancangan. Shaughnessy dan Zechmeinter (dalam Emzir, 2009:48-51), yaitu:

1.    Korelasi Bivariat

Rancangan penelitian korelasi bivariat adalah suatu rancangan penelitian yang bertujuan untuk mendeskripsikan hubungan antara dua variabel. Hubungan antara dua variabel diukur. Hubungan tersebut mempunyai tingkatan dan arah. Tingkat hubungan (bagaimana kuatnya hubungan) biasanya diungkapkan dalam angka antar -1,00 dan +1,00, yang dinamakan koefisien korelasi. Korelasi zero (0) mengindikasikan tidak ada hubungan. Koefisien korelasi yang bergerak ke arah -1,00 atau +1,00, merupakan korelasi sempurna pada kedua ekstrem (Emzir, 2009:48).

Arah hubungan diindikasikan olh simbol “-“ dan “+”. Suatu korelasi negatif berarti bahwa semakin tinggi skor pada suatu variabel, semakin rendah pula skor pada variabel lain atau sebaliknya. Korelasi positif mengindikasikan bahwa semakin tinggi skor pada suatu variabel, semakin tinggi pula skor pada variabel lain atau sebaliknya (Emzir, 2009:48).

2.    Regresi dan Prediksi

Jika terdapat korelasi antara dua variabel dan kita mengetahui skor pada salah satu variabel, skor pada variabel kedua dapat diprediksikan. Regresi merujuk pada seberapa baik kita dapat membuat prediksi ini. Sebagaimana pendekatan koefisien korelasi baik -1,00 maupun +1,00, prediksi kita dapat lebih baik.

3.    Regresi Jamak (Multiple Regresion)

Regresi jamak merupakan perluasan regresi dan prediksi sederhana dengan penambahan beberapa variabel. Kombinasi beberapa variabel ini memberikan lebih banyak kekuatan kepada kita untuk membuat prediksi yang akurat. Apa yang kita prediksikan disebut variabel kriteria (criterion variable). Apa yang kita gunakan untuk membuat prediksi, variabel-variabel yang sudah diketahui disebut variabel prediktor (predictor variables).

4.    Analisis Faktor

Prosedur statistik ini mengidentifikasi pola variabel yang ada. Sejumlah besar variabel dikorelasikan dan terdapatnya antarkorelasi yang tinggi mengindikasikan suatu faktor penting yang umum.

5.    Rancangan korelasional yang digunakan untuk menarik kesimpulan kausal

Terdapat dua rancangan yang dapat digunakan untuk membuat pernyataan-pernyataan tentang sebab dan akibat menggunakan metode korelasional. Rancangan tersebut adalah rancangan analisis jalur (path analysis design) dan rancangan panel lintas-akhir (cross-lagged panel design).

Analisis jalur digunakan untuk menentukan mana dari sejumlah jalur yang menghubungkan satu variabel dengan variabel lainnya. Sedangkan desain panel lintas akhir mengukur dua variabel pada dua titik sekaligus.

6.    Analisis sistem (System Analysis)

Desain ini melibatkan penggunaan prosedur matematik yang kompleks/rumit untuk menentukan proses dinamik, seperti perubahan sepanjang waktu, jerat umpan balik serta unsur dan aliran hubungan.

F. Desain Dasar Penelitian Korelasional

Pada dasarnya penelitian korelasioanal melibatkan perhitungan korelasi antara variabel yang komplek (variabel kriteria) dengan variabel lain yang dianggap mempuyai hubungan (variabel prediktor). Langkah-langkah tesebut penelitian ini antara lain secara umum menurut Mc Milan dan Schumaker (2003), yaitu penentuan masalah, peninjauan masalah atau studi pustaka, pertanyaan penelitian atau hipotesis, rancangan penelitian dan metodologi penelitian,  pengumpulan data, dan analisis data, simpulan.

1.    Penentuan masalah

Dewey (dalam Syamsuddin dan Vismaia, 2009:42) menyatakan masalah dalam penelitian merupakan kesenjangan antara yang diharapkan dengan kenyataan yang ada atau sesuatu yang dijadikan target yang telah ditetapkan oleh peneliti, tetapi target tersebut tidak tercapai. Disetiap penelitian langkah awal yang harus dilakukan peneliti adalah menentukan masalah penelitian yang akan menjadi fokus studinya. Ciri-ciri permasalahan yang layak diteliti adalah yang dapat diteliti (researchable), mempunyai kontribusi atau kebermanafaatan bagi banyak pihak, dapat didukung oleh data empiris serta sesuai kemampuan dan keinginan peneliti (Sukardi, 2004:27-28). Dalam penelitian korelasional, masalah yang dipilih harus mempunyai nilai yang berarti dalam pola perilaku fenomena yang kompleks yang memerlukan pemahaman. Disamping itu, variabel yang dimasukkan dalam penelitian harus didasarkan pada pertimbangan, baik secara teoritis maupun nalar, bahwa variabel tersebut mempunyai hubungan tertentu. Hal ini biasanya dapat diperoleh berdasarkan hasil penelitian sebelumnya.

2.    Peninjauan Masalah atau Studi Kepustakaan

Setelah penentuan masalah, kegiatan penelitian yang penting adalah studi kepustakaan yang menjadi dasar pijakan untuk memperoleh landasan teori, kerangka pikir dan penentuan dugaan sementara sehingga peneliti dapat mengerti, mengalokasikan, mengorganisasikan, dan menggunakan variasi pustaka dalam bidangnya. Macam-macam sumber untuk memperoleh  teori yang berkaitan dengan masalah yang diteliti adalah dari jurnal, laporan hasil penelitian, majalah ilmiah, surat kabar, buku yang relevan, hasil-hasil seminar, artikel ilmiah dan narasumber.

3.    Rancangan penelitian atau Metodologi  Penelitian

Pada tahap ini peneliti menentukan subjek penelitian yang akan dipilih dan menentukan cara pengolahan datanya. Subyek yang dilibatkan dalam penelitian ini harus dapat diukur dalam variabel-variabel yang menjadi fokus penelitian. Subyek tersebut harus relatif homogen dalam faktor-faktor di luar variabel yang diteliti yang mungkin dapat mempengaruhi variabel terikat. Bila subyek yang dilibatkan mempunyai perbedaan yang berarti dalam faktor-faktor tersebut, korelasi antar variabel yang diteliti menjadi kabur. Untuk mengurangi heterogenitas tersebut, peneliti dapat mengklasifikasikan subyek menjadi beberapa kelompok berdasarkan tingkat faktor tertentu kemudian menguji hubungan antar variabel penelitian untuk masing-masing kelompok.

4.    Pengumpulan data

Berbagai jenis instrumen dapat digunakan untuk mengukur dan mengumpulkan data masing-masing variabel, seperti angket, tes, pedoman interview dan pedoman observasi, tentunya disesuaikan dengan kebutuhan. Data yang dikumpulkan dengan instrumen-instrumen tersebut harus dalam bentuk angka. Dalam penelitian korelasional, pengukuran variabel dapat dilakukan dalam waktu yang relatif sama. Sedang dalam penelitian prediktif, variabel prediktor harus diukur selang beberapa waktu sebelum variabel kriteria terjadi. Jika tidak demikian, maka prediksi terhadap kriteria tersebut tidak ada  artinya.

5.    Analisis data

Pada dasarnya, analisis dalam penelitian korelasional dilakukan dengan cara mengkorelasikan hasil pengukuran suatu variabel dengan hasil pengukuran variabel lain. Dalam penelitian korelasional, teknik korelasi bivariat, sesuai dengan jenis datanya, digunakan untuk menghitung tingkat hubungan antara variabel yang satu dengan yang lain. Sedang dalam penelitian prediktif, teknik yang digunakan adalah analisis regresi untuk mengetahui tingkat kemampuan prediktif variabel prediktor terhadap variabel kriteria. Namun demikian, dapat pula digunakan analisis korelasi biasa bila hanya melibatkan dua variabel. Bila melibatkan lebih dari dua variabel, misalnya untuk menentukan apakah dua variabel prediktor atau lebih dapat digunakan untuk memprediksi variabel kriteria lebih baik dari bila digunakan secara sendiri-sendiri, teknik analisis regresi ganda, multiple regresion atau analisis kanonik dapat digunakan. Hasil analisis tersebut biasanya dilaporkan dalam bentuk nilai koefisien korelasi atau koefisien regresi serta tingkat signifikansinya, disamping proporsi variansi yang disumbangkan oleh variabel bebas terhadap variabel terikat.

Interpretasi data pada penelitian korelasional adalah bila dua variabel hubungkan maka akan menghasil koefisen korelasi dengan simbol (r). Hubungan variabel tersebut dinyatakan dengan nilai dari -1 samapai +1.  Nilai (-) menunjukan korelasi negatif yang variabelnya saling bertolak belakang dan nilai (+) menunjukkan korelasi positif yang variabelnya saling mendekati ke arah yang sama (Syamsudin dan Vismaia, 2009:25).

6.    Simpulan

Berisi tentang hasil analisis deskripsi dan pembahasan tentang hal yang diteliti dengan menggunakan mudah dipahami pembaca secara ringkas.

G. Kelebihan dan Kelemahan Penelitian Korelasional

Penelitian korelasional mengandung kelebihan-kelebihan, antara lain: kemampuannya untuk menyelidiki hubungan antara beberapa variabel secara bersama-sama (simultan);  dan Penelitian korelasional juga dapat memberikan informasi tentang derajat (kekuatan) hubungan antara variabel-variabel yang diteliti (Abidin, 2010). Selanjutnya, Sukardi menambahkan kelebihan penelitian ini adalah penelitian ini berguna untuk mengatasi masalah yang berkaitan dengan bidang pendidikan, ekonomi, sosial. Dengan penelitian ini juga memungkinkan untuk menyelidiki beberapa variabel untuk diselidiki secara intensif dan penelitian ini dapat melakukan analisis prediksi tanpa memerlukan sampel yang besar.

Sedangkan, kelemahan penelitian korelasional, antara lain: Hasilnya cuma mengidentifikasi apa sejalan dengan apa, tidak mesti menunjukkan saling hubungan yang bersifat kausal; Jika dibandingkan dengan penelitian eksperimental, penelitian korelasional itu kurang tertib- ketat, karena kurang melakukan kontrol terhadap variabel-variabel bebas; Pola saling hubungan itu sering tak menentu dan kabur; ering merangsang penggunaannya sebagai semacam short-gun approach, yaitu memasukkan berbagai data tanpa pilih-pilih dan menggunakan setiap interpretasi yang berguna atau bermakna. (Abidin, 2010).

DAFTAR PUSTAKA

Abidin, Muhammad Zainal. 2008. Penelitian Korelasional. (artikel). Dalam http://www.Muhammad Zainal Abidin Personal Blog.htm. di akses tanggal 25 September 2010.

Atmodjo, J. Tri. 2005. Modul Penelitian Korelasi (artikel). Jakarta: Fikom Universitas Mercubuana Jakarta

Emzir. 2009. Metodologi Penelitian Pendidikan Kualitatif dan Kuantitatif. Jakarta: PT Raja Grafindo Pergoda.

Fraenkel, J.R dan Wellen, N.E. 2008. How to Design and Evaluate research in Education. New York: McGraw-Hill.

McMilan, J dan Schumacher, S. 2003. Research in Education. New York: Longman.

Nurgiantoro, Burhan. 2001. Penilaian dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra edisi ketiga. Yogyakarta: BPFE-Yogyakarta.

Ruseffendi. 1993. Statistika untuk Penelitian Pendidikan. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi Proyek Pembinaan Tenaga Kependidikan Perguruan Tinggi.

Sukardi. 2004. Metodologi Penelitian Pendidikan Kompetensi dan Praktiknya. Jakarta: Bumi Aksara.

Syamsuddin dan Vismaia S. Damaianti. 2009. Metodologi Penelitian Pendidikan Bahasa. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

 

Sumber Disini

Penelitian eksplanatori

Leave a comment

Penelitian Eksplanatori adalah penelitian bertujuan untuk menguji suatu teori atau hipotesis guna memperkuat atau bahkan menolak teori atau hipotesis hasil penelitian yang sudah ada.

Penelitian eksploratori bersifat mendasar dan bertujuan untuk memperoleh keterangan, informasi, data mengenai hal-hal yang belum diketahui.[1] Karena bersifat mendasar, penelitian ini disebut penjelajahan (eksploration).[1] Penelitian eksploratori dilakukan apabila peneliti belum memperoleh data awal sehingga belum mempunyai gambaran sama sekali mengenai hal yang akan diteliti.[1] Penelitian eksploratori tidak memerlukan hipotesis atau teori tertentu.[1] Peneliti hanya menyiapkan beberapa pertanyaan sebagai penuntun untuk memperoleh data primer berupa keterangan, informasi, sebagai data awal yang diperlukan.[1].

Tujuan Penelitian

Penelitian eksplanatori atau eksplanatif bertujuan untuk menjelaskan hubungan antara dua atau lebih gejala atau variabel.[2] Penelitian ini bertitik pada pertanyaan dasar “mengapa”.[2] Orang sering tidak puas hanya sekadar mengetahui apa yang terjadi, bagaimana terjadinya, tetapi juga ingin mengetahui mengapa terjadi.[2] Kita ingin menjelaskan sebab terjadinya suatu peristiwa. Untuk itu, perlu diidentifikasi berbagai variabel di luar masalah untuk mengkonfirmasi sebab terjadinya suatu masalah.[2] Oleh karena itu, penelitian penjelasan ini juga disebut sebagai penelitian konfirmatori (Confirmatory research) dan makin dikenal sebagai penelitian korelasional (Correlational research).[2] Beberapa definisi penelitian korelasional dikemukakan sebagai berikut:

Correlational research involves collecting data in order to determine whether, and to what degree, a relationship exists between two or more quantifiable variables[2].

 

Research that uses classification type independent variables is known generally as correlational research[2].

Melalui penelitian eksplanatori ini dapat diketahui bagaimana korelasi antara dua atau lebih variabel baik pola, arah, sifat, bentuk, maupun kekuatan hubungannya. Penelitian koreslasional ini dimulai dengan pertanyaan implisit atau eksplisit: “Adakah hubungan antara X dan Y?” Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini hanya dapat diperoleh melalui penelitian penjelasan atau korelasional. Berikut ini adalah contoh penelitian korelasional: “Adakah hubungan antara motivasi kerja dan tingkat kemangkiran pegawai?”, “Adakah hubungan antara motivasi kerja dan tingkat kemangkiran pegawai?”.

Tipe Pertanyaan Penelitian

Pertanyaan-pertanyaan penelitian penjelasan berhubungan dengan “how” dan “why”. Namun, pertanyaan “why”, “to what next”, “how much”, “how significant” sebagai pertanyaan yang lebih rumit dari pada “how” adalah umum dan lebih banyak digunakan karena penelitian eksplanasi melihat sebab dan alasan. Pertanyaan “why”, “to why extent”, “how much”, “how far”, “how significant”, meminta penjelasan berdasarkan satu teori. Tipe penjelasan yang biasa adalah sebagai berikut:

  1. Causal explanations merupakan penjelasan tentang apa penyebab dari beberapa peristiwa atau fenomena. Penjelasan kausal merupakan tipe yang sangat umum dari penjelasan yang digunakan jika ubungan adalah satu tentang sebab dan akibat. Kita mungkin mengatakan kemiskinan menyebabkan kejahatan, kebebasan moral menyebabkan suatu peningkatan dalam perceraian, atau kepuasan meningkatkan prestasi.
  2. Structural explanations merupakan penjelasan tentang apa peran abstrak atau universal, kode atau hukum yang memberi keterangan memuaskan tentang hubungan antara ciri-ciri dari sistem dan peran-peran yang menciptakan strukturmya. Penjelasan struktural digunakan dengan teori-toeri fungsional dan pola-pola. Seorang peneliti membuat satu penjelasan struktural dengan menggunakan satu set asumsi-asumsi interconnected, konsep-konsep, dan hubungan –hubungan. Konsep-konsep dan hubungan-hubungan dalam satu teori membentuk satu mutually reinforcing system. Dalam penjelasan struktural, seorang peneliti menentukan satu sekuensi dari tahap-tahap atau mengenalkan bagian-bagian esensial yang membentuk suatu interlocked whole. Misalnya, mengapa industri kesehatan dari negara maju mendapat inspirasi dari kemiskinan pedesaan dunia ketiga?.
  3. Interpretive explanation yang bertujuan untuk membantu pemahaman. Para teorist interpretif mencoba melihat makna dari satu peristiwa atau praktik melalui penempatannya di dalam satu konteks sosial spesifik. Pemaknaannya datang dari konteks pada satu sistem simbol kultural. Penjelasan dicapai dengan menunjukkan hubungan antara dua atau lebih variabel. Unit-unit untuk analisis tersebut disebut dengan variabel.

Ada dua tipe utama penelitian eksplanasi, yaitu penelitian asosiasi yang disebut juga dengan nama penelitian kovariasional, dan penelitian kausal. Ini berhubungan dengan makna yang terkadung dalam hubungan antar-variabel yang mungkin bermakna sebagai asosiasi (tidak menjelaskan sebab-akibat) atau hubungan kausal (menjelaskan sebab-akibat). Baik dalam penelitian koresional maupun kausal, perhatian utama menentukan arah, besar atau kekuatan kekuatan hubungan, dan bentuk-bentuk hubungan-hubungan yang di observasi. Jadi, penelitian korelasional dan kausal meliputi obeservasi nilai-nilai dari dua atau lebih variabel dan menentukan apakah terdapat hubungan di antara mereka. Hubungan antar-variabel, apakah asosiasional atau kausal, dapat diketahui melalui survei literatur. Seperti yang dinyatakan di dalam penjelasan ini :

Research is a systematic investigation to find answers to a problem. Research can be described as systematic and organized effort to investigate a spesific problem that needs a solution. It is series of steps designed and followed, with the goal of finding answers to the issues that are of concern to us in the work environment.

Referensi

  1. ^ a b c d e (en) David Nachmias & Chava Nachmias, Research Methods in the Social Sciences, Third Edition, New York: St. Martin’s Press, 1987, page. 10-15
  2. ^ a b c d e f g (en) Paul.D. Leedy and Jeanne.E. Ormrod. Practical Research: Planning and Design Research Edisi 8 [2005]. Ohio : Pearson Merrill Prentice Hall. Page 145-187

 

POSISI TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN KONSEPTUAL DALAM PROPOSAL PENELITIAN KEBUDAYAAN

Leave a comment

Oleh : Zainal Arifin

A. PENDAHULUAN

Manusia sebagai makhluk sosial tidak bisa hidup menyendiri seorang diri, sehingga manusia sebagai individu cenderung akan ditekan dan menekan individu dirinya untuk selalu sesuai dengan kondisi dan diri orang lain. Oleh sebab itu, maka dalam dalam kehidupannya manusia cenderung mengembangkan kehidupannya berdasarkan hasil pengetahuan dan pengalamannya secara bersama dalam kelompok-kelompok sosialnya. Artinya manusia tidak bisa hidup sendiri dan cenderung akan selalu melakukan sharing (berbagi bersama) dengan manusia yang lain. Proses sharing ini lalu diserap sebagai pengetahuan individual lewat proses belajar yang dilakukannya. Apabila hasil dari proses sharing ini terus menerus disosilisasikan dan dimantapklan akhirnya relatif membentuk pemahaman yang sama tentang sesuatu, relatif memiliki kesamaan pola pengetahuan, bahkan dalam banyak hal relatif memiliki artefak atau material yang sama.
Kesamaan antara individu satu dengan individu lainnya inilah yang kemudian dipolakan dalam kelompok sosialnya, sehingga akhirnya menjadi sebuah acuan dalam bertindak dan berkehidupan masing-masing manusia anggota kelompok tersebut. Dalam banyak literatur, sesuatu yang terpola atau sesuatu yang telah menjadi kebiasaan ini kemudian disebut dengan istilah budaya atau kebudayaan. Ini artinya sesuatu yang disebut dengan budaya apabila hal-hal yang dimiliki manusia tersebut sifatnya :

1. sudah menjadi milik bersama dengan orang lain yang ada di kelompoknya. Masalahnya, konsep bersama dalam hal ini kecenderungannya akan dilihat secara berbeda oleh masing-masing ahli.
2. Sesuatu itu didapat lewat proses belajar dan tidak didapat secara biologis atau genitas. Artinya, budaya sifatnya harus dipelajari dan tidak bisa diturunkan begitu saja dari generasi sebelumnya. Akal manusia akan selalu memproses pengetahuan yang diperoleh dari proses belajar ini, sehingga budaya cenderung akan mengalami modifikasi dan perubahan, baik sifatnya lambat (evolusi) maupun cepat (revolusi).

Sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan, terpola dan jadi milik bersama inilah yang kemudian disebut dengan BUDAYA atau KEBUDAYAAN (culture). Jadi secara umum kebudayaan adalah segala sesuatu — bisa berbentuk material, perilaku, nilai-nilai, kognitif ataupun simbolik) yang dijadikan milik bersama yang sifatnya sudah terpola atau menjadi kebiasaan bersama. Disini KEBUDAYAAN memiliki sifat-sifat antara lain :

1. Pemilik kebudayaan tidak terbatas pada jumlah atau kuantitas manusianya, kebudayaan tidak dibatasi wilayah administratif, dan terkadang tidak dibatasi waktu.
2. Ujud kebudayaan bisa sifatnya material (benda-benda) yang dibuat dan dimiliki manusia, bisa berbentuk perilaku dengan segala aktifitasnya, dan juga bisa berbentuk pengetahuan (kognitif) manusianya.
3. Sifat kebudayaan bisa sifatnya dinamis (aktif) atau selalu berubah sesuai dengan perkembangan masyarakatnya, karena budaya adalah alat bagi manusia untuk beradaptasi dengan perubahan kondisi lingkungan yang dihadapi, sehingga budaya akan bersifat aktif. Budaya bisa juga bersifat statis (pasif), atau cenderung lambat berubah, karena budaya adalah alat pemelihara dan pelestari kehidupan manusia dalam membentengi terjadinya perubahan kondisi lingkungan yang mereka hadapi, sehingga manusia pemiliknya berusaha untuk tidak terbawa arus perubahan.
4. Kebudayaan cenderung dijadikan PEDOMAN bagi manusianya untuk berperilaku dan berinteraksi. Untuk itu kebudayaan sendiri sebenarnya mengandung nilai-nilai, norma-norma, cognitive system, dan simbol-simbol bersama.

Dalam penelitian Antrropologi, konsepsi tentang budaya seperti ini selalu mewarnai dalam setiap penelitian yang dilakukan. Artinya pandangan tentang budaya tertentu akan selalu mewarnai bentuk proposal dan laporan penelitian yang dilakukan. Tulisan ini mencoba memahami sejauhmana posisi tinjauan pustaka, kerangka pemikiran dan teoritis dalam proposal penelitian. Secara lebih khusus, tulisan ini akan diarahkan pada penempatan kerangka teori tertentu sesuai dengan kerangka pemikiran peneliti.

B. TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN
DAN KONSEPTUAL

Tinjauan Pustaka dalam sebuah proposal adalah ulasan hasil bacaan si peneliti tentang berbagai literatur yang dimiliki berkenaan dengan fokus penelitian yuang akan dilakukan. Sementara Kerangka Pemikiran lebih ditujukan pada bagaimana peneliti memandang fokus penelitian tersebut dalam kerangka berpikir tertentu, sehingga akan berpengaruh pada kerangka teoritis yang dipakainya. Dalam konteks ini Kerangka Teoritis (termasuk di dalamnya konseptual) adalah penggunaan teori-teori yang relevan dengan fokus penelitian dan kerangka pemikiran yang dibuat oleh si peneliti. Sebagai contoh :

Topik : Aktifitas Buruh di Perusahaan
Fokus : “Meneliti Aktifitas Arisan di kalangan Buruh
Pabrik di PT Lembah Karet”
Judul : “Buruh dan Sistem Arisan di Pabrik PT Lembah
Karet”
Tinjauan Pustaka : Cari, baca dan pahami literatur tentang : (1) Buruh, (2) sistem arisan, (3) konsep dan teori tentang Aktifitas Kerja Pabrik, dll
Kerangka Pemikiran (Struktural Fungsional) : Arisan dilihat sebagai alat dalam mengatasi permasalahan ekonomi keluarga, Sementara bagi pemilik pabrik, arisan dilihat sebagai alat pemersatu para buruh.
Kerangka Teoritis (Struktural Fungsional) : Arisan dilihat sebagai aktifitas timbal balik (resiprocity) sehingga secara fungsional menciptakan sistem tersendiri (cara pandang struktural-fungsional)
Kerangka Pemikiran (Kognitif) : Arisan dilihat sebagai kerangka kognitif yang berkembang dalam sebuah komunitas (kelompok) tertentu yang kemudian mempengaruhi pola aktifitas kesehariannya.
Kerangka Teoritis (Kognitif) : Arisan dilihat sebagai seperangkat sistem pengetahuan buruh untuk mengatasi berbagai permasalahan ekonomi secara komunal (cara pandang kognitif)
Kerangka Pemikiran (Simbolik) : Arisan dilihat sebagai alat kekuasaan Pemilik Pabrik untuk menekan Buruh agar tetap bertahan di pabrik tersebut, sebaliknya arisan adalah alat kekuasaan bagi buruh untuk tetap bertahan (menghindari PHK).
Kerangka Teoritis (Simbolik) : Arisan dilihat sebagai simbol kekuasaan (cara pandang simbolik
Kerangka Pemikiran (Strukturalisme Levi-Strauss) : Arisan dilihat sebagai nilai-nilai aplikatif yang sebenarnya mempunyai struktur tersendiri dalam nilai-nilai budaya komunitasnya.
Kerangka Teoritis (Strukturalisme Levi-Strauss) : Arisan dilihat sebagai aplikasi struktur nilai-nilai budaya komunitas (kelompok) tertentu sehingga dengan aktifitas tersebut bisa dibaca seperti apa nilai-nilai budaya komunitas tersebut (cara pandang strukturalisme Levi-Strauss)

1. Cara Pandang Struktural-Fungsional

Pemikiran Struktural Fungsional dalam Antropologi adalah salah satu cara pandang yang paling populer dan terus berkembang sampai sekarang, tidak saja berkembang dalam Antropologi, bahkan pada ilmu sosial pada umumnya. Dalam Antropologi tokoh-tokoh yang cukup populer antara lain Malinowski, Brown, Marcel Mauss, dan lain-lain disamping Durkheim dan Comte yang mewakili struktural-fungsional yang cukup pupoler dalam Sosiologi.
Pemikiran Struktural-Fungsional berasumsi bahwa berbagai fenomena yang berkembang dalam sebuah kelompok masyarakat pada prinsipnya saling berkait satu sama lain membentuk sebuah sistem, struktur dan jaringan sosial tertentu. Sistem adalah jalinan pengaruh-mempengaruhi antar elemen dalam kelompok sosial tertentu. Jaringan Sosial, adalah jalinan saling pengaruh mempengaruhi antar elemen dalam kelompok masyarakat (sosial) tersebut. Sementara Struktur lebih dilihat sebagai wadah dimana sistem dan jaringan sosial tersebut beroperasi atau menjalankan fungsinya.
Dalam konteks ini berarti masing-masing elemen akan selalu menjalankan fungsinya demi terjaganya keseimbangan sistem maupun struktur yang ada. Artinya apabila salah satu elemen tidak berfungsi maka sistem dan struktur akan terganggu, sehingga perlu adanya modifikasi dan proses adaptasi untuk membentuk keseimbangan kembali. Ada dua pemikiran yang berkembang dalam ilmu Sosial dalam melihat proses menjaga keseimbangan ini. Dalam pemikiran ahli struktural tertentu seperti Brown melihat bahwa apabila salah satu elemen tidak berfungsi, maka sistem dan struktur juga akan tidak berfungsi, hancurnya salah satu elemen (tidak berfungsi) maka sistem dan struktur juga akan hancur atau mengalami perubahan. Sementara ahli lain seperti Mauss, justru melihat bahwa apabila salah satu elemen tidak berfungsi, maka elemen lain akan muncul mengantikan elemen yang hilang, atau elemen yang telah ada mencoba (beradaptasi) untuk mengambil alih fungsi elemen yang hilang tersebut.
Berkenaan dengan konsep fungsi itu sendiri, banyak para ahli struktural-fungsional melihatnya sebagai kegunaan atau pengaruh elemen terhadap elemen lain atau terhadap sistem dan struktur itu sendiri. Akan tetapi dasar ber-fungsi-nya suatu elemen ada perbedaan antara ahli yang satu dengan yang lain. Malinowski misalnya melihat suatu elemen berfungsi lebih didasari oleh keinginan untuk memenuhi kebutuhan individual (basic need) yang kemudian berdampak pada sosialnya, sementara ahli lain seperrti Brown melihat fungsi tersebut lebih sebagai upaya memenuhi kebutuhan sosial (kelompok), sehingga individu secara otomatis akan “terkekang” untuk mengikuti aturan tersebut.
Karena cara pandang tentang fenomena bersifat holistik (menyeluruh) maka dalam penelitian, fenomena tidak bisa dipandang berdiri sendiri, tetapi harus dipandang saling terkait satu sama lain. Disamping itu, kesimpulan bahwa suatu elemen berpengaruh terhadap fenomena yang ada tidak bisa diputuskan sedemikian rupa tanpa analisis terhadap keterkaitannya dengan elemen lainnya

Contoh : Rendahnya partisipasi dalam gotong royong tidak bisa begitu saja disimpulkan karena faktor rendahnya pendidikan, tetapi harus di analisis lebih jauh, jangan-jangan rendahnya pendidikan tersebut berkait dengan kepercayaan, atau berkait dengan status sosial, berkait dengan bentuk program dan lain-lain.

2. Cara Pandang Kognitif

Pemikiran kognitif berangkat dari pemikiran etnosains yang memandang bahwa segala fenomena yang ada dan berkembang dalam masyarakat pada prinsipnya akan selalu dipahami secara berbeda oleh setiap komunitas karena sistem pengetahuan yang mereka miliki dan terima juga berbeda. Dengan demikian, fenomena yang berkembang dalam masyarakat tersebut harus dilihat sebagai aplikasi dari sistem pengetahuan yang dimiliki oleh setiap komunitas. Oleh sebab itu, Edmund Hussel mengatakan bahwa fenomena sebenarnya bukanlah kesatuan yang sesungguhnya (no substan¬tial unity), dan juga tidak bersifat kausalitas (no causality). Fenomena adalah sesuatu yang sudah ada dalam persepsi dan kesada¬ran individu yang sadar tentang sesuatu hal (benda, situasi, dan lain-lain).
Perbedaan perspektif dalam melihat sebuah fenomena ini, akhirnya cara pandang tentang sebuah kebudayaan yang telah lama berkembang dalam pemikiran kelompok ahli sebelumnya termasuk dalam pemikiran sturuktural fungsinal juga mengalami perombakan. Kalau dalam pemikiran sebelumnya, kebudayaan lebih ditekankan pada sistem sosial (social system), maka kebudayaan dalam perspektif pemikiran fenome¬nologis, kebudayaan lebih ditekankan pada sistem ide (cultural system) sehingga sistem ide atau gagasan inilah yang mengendalikan perilaku manusia di dalam sistem sosialnya.
Dalam konteks ini, sistem pengetahuan (kognitif) dipahami sebagai milik bersama yang dikomunikasikan pada setiap individu lewat proses belajar, baik lewat pengalaman, interaksi sosial maupun interaksi simbolis. Harus dipahami bahwa setiap individu anggota kelompok sosialnya tidak akan mampu menyerap secara keseluruhan nilai-nilai, ide-ide dan pengetahuan yang ada dan berkembang disekitarnya. Hal ini disebabkan adanya pe*rbedaan psikologis, pola asuh, interaksi yang dilakukan, dan tingkat kemampuan dalam menyerap pengetahuan pada setiap individunya. Perbedaan ini berimplik¬asi pada model-model pengetahuan yang dimiliki seseorang tidak secara keseluruhan akan dijadikan pedoman atau pegangan, tetapi dalam penggunaannya biasanya hanya berpedoman pada salah satu atau sejumlah model saja. Pemilihan model-model pengetahuan sebagai pedoman dalam bertindak ini secara selektif disesuaikan dengan kondisi dan permasalahan yang dihadapi. Model-model penge-tahuan tertentu yang dimiliki oleh masing-masing individu pemilik kebudayaan tersebut sering disebut sebagai pengetahuan budaya — jadi bukan kebudayaan, tetapi pengetahuan individu tentang budaya tertentu.
Aplikasi pemikiran demikian, maka dalam proposal dan laporan penelitian, si peneliti akan selalu mencoba mencari jawaban “mengapa sebuah fenomena berkembang sedemikian rupa” dan jawabannya ada dalam “kognitif kelompok sosial”. Untuk itu tugas peneliti adalah mencari tahu “seperti apa sistem pengetahuan (kognitif) kelompok sosial” tersebut. Untuk menemukan kognitif tersebut (berarti sifatnya abstrak), maka para ahli etnosains merujuk pada sebuah cara yaitu memahami bahasa yang berkembang dan dikembangkan oleh kelompok sosial tersebut berkenaan dengan fenomena yang ada. Ini diasumsikan karena bahasa adalah cerminan dari sistem pengetahuan itu sendiri. Dengan demikian dalam bahasa akan selalu termuat berbagai cara pandang tentang sesuatu (fenomena) yang biasanya berbentuk klasifikasi. Artinya penyebutan tentang sesuatu dengan demikian diasumsikan akan berdampak pada perlakuan yang berbeda apabila penyebutannya juga berbeda, sebaliknya apabila penyebutannya sama walaupun bendanya berbeda akan berdampak pada perlakuan yang sama.

Contoh : Ketika orang Minangkabau menyebut mangga dengan demikian perlakukan terhadap mangga akan berbeda apabila dia menyebut ambacang.
: Ketika orang Melayu menyebut nangka akan berbeda perlakuannya apabila dia menyebut cubadak atau cempedak, yang bagi orang Minangkabau justru istilah tersebut dianggap sama.

Melihat istilah (bahasa) saja tidak cukup, oleh sebab itu cara lain yang sering dipakai secara bersamaan adalah dengan menemukan Pola (pattern) tentang fenoemena yang diteliti. Menurut Keesing, ada dua bentuk pola yaitu Pola Dari (pattern of) dan Pola Bagi (patten for). Pola Dari adalah segala sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan yang terus berulang (terpola) dari fenomena yang berkembang. Sementara Pola Bagi adalah segala sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan yang terus berulang dari kognitif seseorang. Tugas peneliti adalah memahami Pola Dari suatu fenomena dalam upaya menemukan Pola Bagi dari fenomena tersebut.
Pemikiran tentang cara menemukan Pola ini ditransformasi dari cara linguistik dalam memahami bahasa khususnya tewntang bunyi kata (fonem) yaitu cara pandang Fonemik dan cara pandang Fonetik. Cara pandang fonemik yaitu dengan mendengar dan memahami fenomena bahasa dengan mendengar langsung dari penutur bahasa, yang dalam kajian budaya akhirnya ditransformasi menjadi cara pandang Emik yaitu dengan cara memahami fenomena sosial-budaya menurut cara pandang (kognitif) kelompok kajian. Sementara cara pandang Fonetik yaitu memahami bunyi bahasa dengan cara menggunakan kode-kode linguistik yang telah ada sehingga bunyi bahasa sebenarnya bisa dituliskan dan diinformasikan kepada pembaca, yang dalam kajian budaya ditranformasi menjadi cara pandang Etik yaitu cara memahami fenomena sosial-budaya dengan

3. Cara Pandang Simbolik

Cara pandang simbolik pada awalnya berkembang dari pemikiran kelompok hermeneutics (tafsir) yang berasumsi bahwa setiap fenemona yang ada pada prinsipnya telah ditafsir ulang oleh setiap individu atau kelompok sosial. Hasil penafsiran ulang itulah yang kemudian membuat mengapa fenomena yang ada akan selalu berbeda baik dalam kelompok sosialnya sendiri apalagi dengan kelompok diluar dirinya. Cara pandang demikian akhirnya melihat bahwa setiap fenomena itu sendiri pada prinsipnya akan selalu berujud simbolik karena pemaknaannya akan sangat tergantung pada penafsiran individu atau kelompok sosial tersebut.
Geertz mencoba membedakan antara simbol (symbol) dengan tanda (sign) dan dengan ikon (icon). Menurut Geertz simbol adalah segala sesuatu yang memiliki arti ganda sehingga hasil pemaknaannya cenderung tidak mencerminkan arti fenomena yang sebenarnya. Tanda adalah segala sesuatu yang mengacu pada makna yang sebenarnya sehingga tanda cenderung memiliki arti yang relatif sama dengan fenomena yang diacunya.Sementara Icon mengacu pada simbol-simbol dan tanda-tanda keagamaan dan bersifat religius, sehingga pemaknaannya cenderung mengacu pada fenomena keagamaan.
Contoh : Lampu Merah, Hijau dan Kuning di persimpangan jalan akan menjadi simbol apabila dimaknai oleh pengendara motor dan mobil, karena Merah berarti berhenti, hijau berarti jalan terus, dan kuning berarti berhati-hati. Tapi lampu yang sama akan menjadi tanda a[pabila dimaknai oleh pejalan kaki, karena merah, kuning dan hijau tidak ada perbedaan, karena hanya mengisyaratkan warna tertentu saja. Sebaliknya warna Hijau juga bisa menjadi icon apabila dimaknai secara politis, dimana hijau berarti PPP dan merah berarti PDI-P dan kuning berarti Golkar. Hal yang sama juga berlaku dengan tanda silang (salib) akan menjadi icon bagi umat kristiani, akan menjadi tanda tambah bagi pelajar dan mahasiswa, dan akan menjadi simbol bagi kelompok neo-Nazi.
Ini berarti kajian tentang simbolik akan mencoba memahami sejauhmana sesuatu atau fenomena tersebut dimaknai sebagai suatu simbol tersendiri bagi kelompok tertentu. Tugas peneliti mencoba memahami hasil pemaknaan terhadap simbol-simbol yang ada. Artinya segala sesuatu yang tampak dihadapan peneliti tidak dilihat dalam kacamata si peneliti (etnocentris) karena pemaknaannya akan berbeda, tetapi harus dimaknai berdasarkan kelompok sosial itu sendiri. Cara yang umum dipakai adalah menemukan sejauhmana sesuatu atau fenomena tersebut menunjuk pada simbol-simbol tertentu, dan untuk kemudian sejauhmana simbol tersebut dimaknai.

4. Cara Pandang Strukturalisme Levi-Strauss

Seperti namanya, cara pandang strukturalisme ini dikembangkan oleh ahli struktural Perancis yang bernama Levi-Strauss. Cara pandang Levi-Strauss ini sebenarnya didasari oleh pemikiran struktural-fungsional sebelumnya yang kemudian dikembangkan dengan meniru gaya dan analisis para ahli Linguistik Amerika (diantaranya de Saussure dan Jacobson). Levi-Strauss melihat bahwa para ahli struktural-fungsional yang ada selama ini hanya sampai pada menemukan struktur pada tahapan empirik saja, tetapi belum sampai melihat struktur yang terdalam (deep structure). Untuk lebih mampu memahami fenomena yang sebenarnya maka upaya menemukan struktur terdalam menjadi sangat penting. Ini berangkat dari pemikiran bahwa struktur empirik akan selalu mengalami perubahan dari waktu ke waktu, sehingga struktur yang ada akhirnya bersifat sementara, namun struktur yang sebenarnya bisa ditemukan dengan cara menemukan struktur terdalam tersebut. Artinya apabila si peneliti mampu menemukan struktur terdalam tersebut, maka fenmona perubahan yang terjadi akan bisa dibaca arah dan fokusnya.
Salah satu cara untuk menemukan struktur terdalam tersebut, maka Levi-Strauss menawarkan cara yang umum dilakukan oleh para ahli linguistik dalam mengkaji struktur bahasa selama ini. Dalam linguistik dikenal ada pendekatan paradigmatis dan pendekatan sintagmatis. Cara pandang sintagmatis adalah cara pandang untuk menemukan struktur bahasa dengan cara memahmi makna suatu kata sesuai dengan rangkaian kalimat yaitu kata yang mendahului atau kata yang mengakhirnya. Sementara paradigmatis yaitu cara memahami bahasa dengan mempertimbangkan unsur diluar bahasa itu sendiri seperti mimik wajah, intonasi dan lain sebagainya. Cara lain dalam memahami struktur bahasa adalah dengan cara pandang parole dan langua. Parole adalah cara melihat bahasa dengan menekankan pada style individual, sementara langua yaitu dengan cara melihat pada style kelompok (logat dan makna kata kelompok).
Cara pandang dalam linguistik inilah yang kemudian oleh Levi-Strauss di transformasikan dalam mengkaji masalah sosial-budaya. Cara pandang sintagmatis dan cara pandang parole lalu disebutnya dengan cara pandang diakronis, sedangkan cara pandang paradigmatis dan langua disebutkan dengan cara sinkronis. Cara pandang sinkronis adalah memahami fenomena sosial-budaya dengan cara memahami aspek-aspek yang terkait dengan fenomena tersebut sesuai dengan apa yang diungkap dan berkembang dalam masyarakat. Sedangkan cara pandang sinkronis adalah cara memahami fenomena sosial-budaya dengan cara memahami aspek-aspek di luar fenomena itu sendiri atau melihat proses sebab-akibat atau dampak dari fenomena lain di luar fenomena yang ada.

Contoh dalam Linguistik :
sintagmatis / parole : “penduduk kota Padang ada sekitar 250.000 jiwa. Makna kata jiwa disini akan berbeda apabila dalam kalimat “Amir sakit jiwa” atau dalam kalimat “jiwa nya melayang”.
paradigmatis / langua : “kalau tidak mau mendengarkan, ya silahkan saja diteruskan, tapi kalau ada apa-apa jangan salahkan saya” disini mungkin akan ada tekanan suara atau mimik tertentu, sehingga dia bisa merubah makna kalimat.

Contoh dalam kajian sosial-budaya :
diakronis : Arisan pada kelompok buruh PT Lembah Karet ternyata adalah simbol kekuasaan karena disini akhirnya Direkturnya susah untuk melakukan PHK pada karyawannya yang seharusnya memang harus di PHK
sinkronis : Arisan sebagai simbol kekuasaan bagi para buruh tidak bisa dilihat sebagai upaya menekan direktur perusahaan saja, tetapi ternyata terkait dengan adanya kelompok LSM yang berusaha membelajarkan kaum buruh akan pentingnya mengontrol kekuasaan direktur. Adanya gerakan LSM ini juga tidak bisa begitu saja diterima dan beraktifitas tanpa dikaitkan dengan era reformasi.

C. SUMBER REFERENSI

Ahimsa-Putra, Heddy Shri. Antropologi di Indonesia oleh Ahli Antropologi Indonesia: Perspektif Epistemologi. Makalah Lokakarya Perilaku Manusia Dibahas dari Perspektif Kajian Ilmu Sosiologi, Antropologi, Psikologi dan Sjerah di Indonesia. UGM Yogyakarta 22 Agustus 1994.
Alam, Bachtiar. “Globalisasi dan Perubahan Budaya: Perspektif Teori Kebudayaan” dalam Antropologi Indonesia No.54/XXI. 1998.
Arifin, Zainal. “Konsep Kebudayaan dalam Antropologi” dalam Jurnal Antropologi No.3/II. 1999.
Brown, Radcliffe A.R. Structure and Function in Primitive Society. Essays and Addresses. London: Routledge & Kegan Paul. 1952.
Ember & Ember. “Konsep Kebudayaan” dalam T.O.Ihromi (eds). Pokok-Pokok Antropologi Budaya. Jakarta: Gramedia. 1981. hal. 13-32.
Geertz, Clifford. Kebudayaan dan Agama. Yogyakarta: Kanisius. 1992.
Irianto, Sulistyowati. “Konsep Kebudayaan Koentjaraningrat dan Keberadaannya dalam Paradigma Ilmu-Ilmu Sosial” dalam Masinambow (eds) Koentjaraningrat dan Antropologi di Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. 1997.
Keesing, Roger M. “Theory of Culture” dalam Ronald W. Casson (eds). Language, Culture and Cognition. Anthropological Perspectives. New York: MacMillan Publishing Co.Inc. 1981. hal. 42-66.
Ortner, Sherry B. “Theory in Anthropology since the Sixties” dalam Comparative Studies in Society and History. An International Quarterly Vol. 26/1. Cambridge: Cambridge University Press. 1984. hal.126-166.
Spadley, James. The Ethnographic Interview. New York: Holt, Rinehart and Winston. 1979.
Suparlan, Parsudi. “Manusia dan Kebudayaan dan Lingkungan. Perspektif Antropologi Budaya” dalam Majalah Ilmu-Ilmu Sastra Indonesia No 1-3/IX. 1980. hal. 236-240.
Turner, Victor. 1970. The Forest of Symbol: Aspects of Ndebu Ritual. New York: Cornell University Press

Sumber Klik Disini

Penelitian Dengan Metode Deskriptif

Leave a comment

2.1 Pengertian

Metode deskripsi adalah suatu metode dalam penelitian status kelompok manusia, suatu objek, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran, ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang.

Whitney (1960) berpendapat, metode deskriptif adalah pencarian fakta dengan interpretasi yang tepat. Penelitian deskriptif mempelajari masalah-masalah dalam masyarakat, serta tata cara yang berlaku dalam masyarakat serta situasi-situasi tertentu, termasuk tentang hubungan, kegiatan-kegiatan, sikap-sikap, pandangan-pandangan serta proses-proses yang sedang berlangsung dan pengaruh-pengaruh dari suatu fenomena.

Dalam metode deskriptif, peneliti bisa saja membandingkan fenomena-fenomena tertentu sehingga merupakan suatu studi komparatif. Adakalanya peneliti mengadakan klasifikasi, serta penelitian terhadap fenomena-fenomena dengan menetapkan suatu standar atau suatu norma tertentu, sehingga banyak ahli meamakan metode ini dengan nama survei normatif (normatif survei). Dengan metode ini juga diselidiki kedudukan (status) fenomena atau faktor dan memilih hubungan antara satu faktor dengan faktor yang lain. Karenanya mentode ini juga dinamakan studi kasus (status study).

Metode deskriptif juga ingin mempelajari norma-norma atau standar-standar sehingga penelitian ini disebut juga survei normatif. Dalam metode ini juga dapat diteliti masalah normatif bersama-sama dengan masalah status dan sekaligus membuat perbandingan-perbandingan antarfenomena. Studi demikian dinamakan secara umum sebagai studi atau penelitian deskritif. Perspektif waktu yang dijangkau, adalah waktu sekarang atau sekurang-kurangnya jangka waktu yang masih terjangkau dalam ingatan responden.

2.2 Tujuan

Penelitian deskriptif bertujuan untuk membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antara fenomena yang diselidiki.

2.3 Ciri-ciri Metode Deskriptif

  • Untuk membuat gambaran mengenai situasi atau kejadian, sehingga metode ini berkehendak mengadakan akumulasi data dasar belaka.(secara harafiah)
  • Mencakup penelitian yang lebih luas di luar metode sejarah dan eksperimental.
  • Secara umum dinamakan metode survei.
  • Kerja peneliti bukan saja memberi gambaran terhadap fenomena-fenomena, tetapi :
    • menerangkan hubungan,
    • menguji hipotesis-hipotesis
    • membuat prediksi, mendapatkan makna, dan
    • implikasi dari suatu masalah yang ingin dipecahkan
    • Mengumpulkan data dengan teknik wawancara dan menggunakan schedule qestionair/interview guide.

2.4 Jenis-jenis Penelitian Deskriptif

Ditinjau dari segi masalah yang diselidiki, teknik dan alat yang digunakan dalam meneliti, serta tempat dan waktu, penelitian ini dapat dibagi atas beberapa jenis, yaitu:

  • Metode survei,
  • Metode deskriptif berkesinambungan (continuity descriptive),
  • Penelitian studi kasus
  • Penelitian analisis pekerjaan dan aktivitas,
  • Penelitian tindakan (action research),
  • Peneltian perpustakaan dan dokumenter.

2.5 Kriteria Pokok Metode Deskriptif

Metode deskriptif mempunyai beberapa kriteria pokok, yang dapat dibagi atas kriteria umum dan khusus. Kriteria tersebut sebagai berikut:

  1. kriteria umum
  • Masalah yang dirumuskan harus patut, ada nilai ilmiah serta tidak terlalu luas.
  • Tujuan penelitian harus dinyatakan dengan tegas dan tidak terlalu umum
  • Data yang digunakan harus fakta-fakta yang terpercaya dan bukan merupakan opini.
  • Standar yang digunakan untuk membuat perbandingan harus mempunyai validitas.
  • Harus ada deskripsi yang terang tentang tempat serta waktu penelitian dilakukan.
  • Hasil penelitian harus berisi secara detail yang digunakan, baik dalam mengumpulkan data maupun dalam menganalisis data serta serta study kepustakaan yang dilakukan. Deduksi logis harus jelas hubungannya dengan kerangka teoritis yang digunakan jika kerangka teoritis untukitu telah dikembangkan.
  1. Kriteria Khusus
  • Prinsip-prinsip ataupun data yang digunakan dinyatakan dalam nilai (value).
  • Fakta-fakta atupun prinsip-prinsip yang digunakan adalah mengenai masalah status
  • Sifat penelitian adalah ex post facto, karena itu, tidak ada kontrol terhadap variabel, dan peneliti tidak mengadakan pengaturan atau manupulasi terhadap variabel. Variabel dilihat sebagaimana adanya.

2.6 Langkah-langkah Umum dalam Metode Deskriptif

Dalam melaksanakan penelitian deskripif, maka langkah-langkah umum yang sering diikuti adalah sebagai berikut:

    1. Memilih dan merumuskan masalah yang menghendaki konsepsi ada kegunaan masalah tersebut serta dapat diselidiki dengan sumber yang ada.
    2. Menentukan tujuan dari penelitian yang akan dikerjakan. Tujuan dari penelitian harus konsisten dengan rumusan dan definisih dari masalah.
    3. Menelusuri sumber-sumber kepustakaan yang ada hubungannya dengan masalah yang ingin dipecahkan.
    4. Merumuskan hipotesis-hipotesis yang ingin diuji baik secara eksplisit maupun implisit.
    5. Melakukan kerja lapangan untuk mengumpulkan data, gunakan teknik pengumpulan data yang cocok untuk penelitian.
    6. Membuat tabulasi serta analisis statistik dilakukan terhadap data yang telah dikumpulkan. Kuranggi penggunaan statistik sampai kepada batas-batas yang dapat dikerjakan dengan unit-unit pengukuran yang sepadan.
    7. Memberikan interpretasi dari hasil dalam hubungannya dengan kondisi sosial yang ingin diselidiki serta dari data yang diperoleh dan referensi khas terhadap masalah yang ingin dipecahkan.
    8. Mengadakan generalisasi serta deduksi dari penemuan serta hipotesis-hipotesis yang ingin diuji. Berikan rekomendasi-rekomendasi untuk kebijakan yang dapat ditarik dari penelitian.
    9. Membuat laporan penelitian dengan cara ilmiah.

Pada bidang ilmu yang telah mempunyai teori-teori yang kuat, maka perlu dirumuskan kerangka teori atau kerangka konseptual yang kemudian diturunkan dalam bentuk hipotesis-hipotesis untuk diverivikasikan. Bagi ilmu sosial yang telah berkembang baik, maka kerangka analisis dapat dijabarkan dalam bentuk-bentuk model matematika.

Sumber Klik Disini

Older Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.