Memilih Judul Penelitian

Leave a comment

Terdapat dua hal yang harus diperhatikan dalam judul penelitian, yaitu penentuan judul dan syarat pemilihan judul.
1. Penentuan Judul
Penentuan judul penelitian sangat penting karena dalam judul tergambarkan objek dan subjek apa yang ingin diteliti, di mana lokasinya, tujuan dan sasaran apa yang ingin dicapai. Dalam menentukan judul penelitian, para peneliti bebas memilih sendiri judul yang diinginkan. Meskipun demikian, tidak mustahil muncul masalah yang kadang-kadang agak membingungkan untuk memilih judul penelitian yang paling tepat. Untuk itu, ada beberapa petunjuk yang perlu diperhatikan bagi seorang peneliti dalam menentukan judul penelitian, yaitu sebagai berikut.
 a. Keterjangkauan
Prinsip pertama yang harus diperhatikan ialah bahwa judul ataupun objek yang akan diteliti sedapat mungkin terjangkau oleh kemampuan peneliti. Keterjangkauan ini sangat bergantung pada beberapa faktor, yaitu tingkat pengetahuan peneliti, waktu dan biaya yang tersedia, kesulitan memperoleh pembimbing, serta kerja sama dengan pihak lain. Tingkat pengetahuan yang dimiliki peneliti adalah seberapa jauh seseorang mempunyai bekal pengetahuan yang diperoleh.
Di samping penguasaan terhadap ilmu pengetahuan, para peneliti hendaknya memperhitungkan waktu dan biaya yang tersedia sebelum menentukan judul penelitian. Semakin lama waktu yang diperlukan untuk meneliti suatu subjek penelitian, semakin besar pula biaya yang dipergunakan. Waktu yang diperlukan agar tidak terlalu lama, dianjurkan peneliti memilih judul penelitian yang tidak terlalu luas ruang lingkupnya. Ruang lingkup suatu penelitian yang terlalu luas dapat berakibat terjadinya pemborosan waktu dan biaya.
Ketika melakukan penelitian, peneliti sering membutuhkan kerja sama dengan pihak lain, terutama dalam hal pengumpulan data. Para peneliti kadang-kadang mengalami kesulitan dalam pengumpulan data karena pihak lain yang berwenang tidak memberikan data dan tidak mau melakukan kerja sama dengan para peneliti. Oleh karena itu, sebelum menentukan judul penelitian, para peneliti sebaiknya sudah dapat memperkirakan pihak mana atau instansi-instansi mana saja yang kelak bisa mereka ajak kerja sama untuk mendapatkan data mengenai objek atau subjek yang rencananya akan diteliti. Peneliti sebaiknya melakukan presurvei untuk mengetahui kondisi subjek atau objek penelitian sebelum penelitian yang sesungguhnya dilaksanakan. Penggalangan kerja sama dengan pihak yang berkompeten dalam pengumpulan data akan sangat menentukan keberhasilan suatu penelitian.
 b. Ketersediaan Data
Judul penelitian yang akan dipilih sedapat mungkin tersedia datanya. Para peneliti akan mengalami kesulitan apabila judul yang dipilih tidak tersedia datanya. Dalam penelitian sosial, data yang diperlukan biasanya berasal dari dua sumber, yaitu data lapangan dan data kepustakaan atau instansi. Data lapangan biasanya juga disebut data primer, yakni data yang diperoleh langsung dari lapangan, baik berupa data fisik maupun data yang bersifat sosial ekonomi. Adapun data kepustakaan berasal dari instansi atau media massa yang biasanya disebut data sekunder, yakni data yang diperoleh, baik melalui perpustakaan maupun melalui instansi-instansi yang berwenang. Data ini merupakan data pendukung dari objek yang akan diteliti.
 c. Arti Penting dari Judul yang Dipilih
Pemilihan judul harus dilakukan dengan cermat. Hal ini dimaksudkan agar judul memiliki arti cukup penting untuk diteliti. Pentingnya judul sangat bergantung pada hal-hal berikut.
  1. Judul yang dipilih dapat mendukung atau memberikan sumbangan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan khususnya bidang sosial selalu berkembang dari waktu ke waktu. Ilmu dalam pengembangannya diperlukan ide-ide atau penemuan-penemuan baru yang dapat dipakai sebagai dasar, hukum, atau teori-teori baru dalam bidang pengetahuan tersebut. Oleh karena itu, pemilihan judul penelitian sedapat mungkin dapat mendukung atau mengembangkan ilmuilmu sosial.
  2. Ada ketidakpuasan terhadap studi sebelumnya. Objek penelitian bisa saja sama dengan objek sebelumnya, namun judul penelitian baru bersifat mengembangkan penelitian yang dilakukan orang lain sebelumnya. Artinya, karena seseorang tidak puas dengan penelitian orang lain, peneliti berusaha meneliti dengan maksud untuk mengembangkan penelitian sebelumnya.
  3. Menarik minat untuk diselidiki. Seseorang yang memilih judul penelitian seharusnya disesuaikan dengan minatnya, jangan memilih judul penelitian yang bertentangan dengan minat karena dapat menimbulkan kebosanan dan ketidakpuasan.
2. Syarat Pemilihan Judul
Ada beberapa syarat yang diperlukan dalam pemilihan judul penelitian, antara lain sebagai berikut.
a. Judul Ditetapkan Setelah Peneliti Mengetahui
Permasalahan Pokok Objek yang Akan Diteliti Setiap objek yang akan diteliti diperlukan pengungkapan secara garis besar dan visual atas kemungkinan-kemungkinan permasalahan yang ada. Misalnya, kita ingin meneliti “motivasi perpindahan penduduk di desa A dan desa B”. Antara desa A dan desa B mempunyai lokasi yang saling berdekatan, tetapi motivasi perpindahannya saling berbeda. Penduduk desa A banyak yang pindah karena faktor ekonomi, yakni sulit memperoleh mata pencaharian, sedangkan desa B perpindahan penduduknya disebabkan oleh faktor politik, misalnya mereka merasa tertekan apabila tinggal di desa tersebut. Setelah garis besar permasalahan tersebut diketahui, baru kemudian ditentukan judul penelitian, misalnya “Studi Perbandingan Motivasi Perpindahan Penduduk Antara Desa A dan Desa B”.
b. Judul Penelitian Mencerminkan Keseluruhan Isi Penulisan
Dari judul penelitian, kita dapat memperkirakan apa kegiatan dan isi penulisan yang dibuat seorang peneliti. Misalnya dengan judul “Studi Perbandingan Motivasi Perpindahan Penduduk Antara Desa A dan Desa B”, kita dapat menebak bahwa peneliti akan lebih menitikberatkan kegiatan penelitiannya pada motivasi perpindahan penduduk, sedangkan isi penulisan akan mengarah kepada perbandingan motivasi perpindahan penduduk Antara desa A dan desa B.
c. Judul Harus Menggunakan Kalimat Singkat dan Jelas
Setiap judul penelitian harus menggunakan kalimat singkat dan jelas. Judul yang terlalu panjang atau bertele-tele dapat membingungkan pembaca
Sumber:
Dialihkan dari buku Sosiologi Menyelami Fenomena Sosial, Penulis; Bagja Waluya, Pusat Perbukuan Depdiknas
Disadur dari sumber disini

Bagaimanakah Menyusun Kerangka Berpikir Penelitian?

Leave a comment

 

Kerangka pemikiran adalah narasi (uraian) atau pernyataan (proposisi) tentang kerangka konsep pemecahan masalah yang telah diidentifikasi atau dirumuskan. Kerangka berpikir atau kerangka pemikiran dalam sebuah penelitian kuantitatif, sangat menentukan kejelasan dan validitas proses penelitian secara keseluruhan. Melalui uraian dalam kerangka berpikir, peneliti dapat menjelaskan secara komprehensif variabel-variabel apa saja yang diteliti dan dari teori apa variabel-variabel itu diturunkan, serta mengapa variabel-variabel itu saja yang diteliti. Uraian dalam kerangka berpikir harus mampu menjelaskan dan menegaskan secara komprehensif asal-usul variabel yang diteliti, sehingga variabel-variabel yang tercatum di dalam rumusan masalah dan identifikasi masalah semakin jelas asal-usulnya.

Pada dasarnya esensi kerangka pemikiran berisi: (1) Alur jalan pikiran secara logis dalam menjawab masalah yang didasarkan pada landasan teoretik dan atau hasil penelitian yang relevan. (2) Kerangka logika (logical construct) yang mampu menunjukan dan menjelaskan masalah yang telah dirumuskan dalam kerangka teori. (3) Model penelitian yang dapat disajikan secara skematis dalam bentuk gambar atau model matematis yang menyatakan hubungan-hubungan variabel penelitian atau merupakan rangkuman dari kerangka pemikiran yang digambarkan dalam suatu model. Sehingga pada akhir kerangka pemikiran ini terbentuklah hipotesis.

Dengan demikian, uraian atau paparan yang harus dilakukan dalam kerangka berpikir adalah perpaduan antara asumsi-asumsi teoretis dan asumsi-asumsi logika dalam menjelaskan atau memunculkan variabel-variabel yang diteliti serta bagaimana kaitan di antara variabel-variabel tersebut, ketika dihadapkan pada kepentingan untuk mengungkapkan fenomena atau masalah yang diteliti.

Di dalam menulis kerangka berpikir, ada tiga kerangka yang perlu dijelaskan, yakni: kerangka teoritis, kerangka konseptual, dan kerangka operasional. Kerangka teoritis atau paradigma adalah uraian yang menegaskan tentang teori apa yang dijadikan landasan (grand theory) yang akan digunakan untuk menjelaskan fenomena yang diteliti. Kerangka konseptual merupakan uraian yang menjelaskan konsep-konsep apa saja yang terkandung di dalam asumsi teoretis yang akan digunakan untuk mengabstraksikan (mengistilahkan) unsur-unsur yang terkandung di dalam fenomena yang akan diteliti dan bagaimana hubungan di antara konsep-konsep tersebut. Kerangka operasional adalah penjelasan tentang variabel-variabel apa saja yang diturunkan dari konsep-konsep terpilih tadi dan bagaimana hubungan di antara variabel-variabel tersebut, serta hal-hal apa saja yang dijadikan indikator untuk mengukur variabel-variabel yang bersangkutan.

Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut di atas, maka dalam menyusun kerangka berpikir kita harus memulainya dengan menegaskan teori apa yang dijadikan landasan dan akan diuji atau digambarkan dalam penelitian kita. Lalu dilanjutkan dengan penegasan tentang asumsi teoretis apa yang akan diambil dari teori tersebut sehingga konsep-konsep dan variabel-variabel yang diteliti menjadi jelas. Selanjutnya, kita menjelaskan bagaimana cara mengoperasionalisasikan konsep atau variabel-variabel tersebut sehingga siap untuk diukur.

Walaupun dalam kerangka berpikir itu harus terkandung kerangka teoretis, kerangka konseptual, dan kerangka operasional, tetapi cara penguraian atau cara pemaparannya tidak perlu kaku dibuat per sub bab masing-masing. Hal yang penting adalah bahwa isi pemaparan kerangka berpikir merupakan alur logika berpikir kita mulai dari penegasan teori serta asumsinya hingga munculnya konsep dan variabel-variabel yang diteliti.

Agar peneliti benar-benar dapat menyusun kerangka berpikir secara  ilmiah (memadukan antara asumsi teoretis dan asumsi logika dalam memunculkan variabel) dengan benar, maka peneliti harus intens dan eksten menelurusi literatur-literarur yang relevan serta melakukan kajian terhadap hasil penelitian-penelitian terdahulu yang relevan, sehingga uraian yang dibuatnya tidak semata-mata berdasarkan pada pertimbangan logika. Untuk itu, dalam menjelaskan kerangka teoretisnya, peneliti mesti merujuk pada literatur atau referensi serta laporan-laporan penelitian terdahulu.

Selanjutnya secara sederhana penyusunan kerangka berpikir dapat dilakukan dengan mengikuti langkah-langkah berikut:

  1. Menentukan  paradigma atau kerangka teoretis yang akan digunakan, kerangka konseptual dan kerangka operasional variabel yang akan diteliti.
  2. Memberikan penjelasan secara deduktif mengenai hubungan antarvariabel penelitian. Tahapan berpikir deduktif meliputi tiga hal yaitu: (a) Tahap penelaahan konsep (conceptioning), yaitu tahapan menyusun konsepsi-konsepsi (mencari konsep-konsep atau variabel dari proposisi yang telah ada, yang telah dinyatakan benar). (b) Tahap pertimbangan atau putusan (judgement), yaitu tahapan penyusunan ketentuan-ketentuan (mendukung atau menentukan masalah akibat pada konsep atau variabel dependen). (c) Tahapan penyimpulan (reasoning), yaitu pemikiran yang menyatakan hal-hal yang berlaku pada teori, berlaku pula bagi hal-hal yang khusus.
  3. Memberikan argumen teoritis mengenai hubungan antar variabel yang diteliti. Argumen teoritis dalam kerangka pemikiran merupakan sebuah upaya untuk memperoleh jawaban atas rumusan masalah. Dalam prakteknya, membuat argumen teoritis memerlukan kajian teoretis atau hasil-hasil penelitian yang relavan. Hal ini dilakukan sebagai petunjuk atau arah bagi pelaksanaan penelitian. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah, oleh karena argumen teoritis sebagai upaya untuk memperoleh jawaban atas rumusan masalah, maka hasil dari argumen teoritis ini adalah sebuah jawaban sementara atas rumusan masalah penelitian. Sehingga pada akhirnya produk dari kerangka pemikiran adalah sebuah jawaban sementara atas rumusan masalah (hipotesis).
  4. Merumuskan model penelitian. Model adalah konstruksi kerangka pemikiran atau konstruksi kerangka teoretis yang diragakan dalam bentuk diagram dan atau persamaan-persamaan matematik tertentu. Esensinya menyatakan hipotesis penelitian. Sebagai suatu kontruksi kerangka pemikiran, suatu model akan menampilkan: (a) jumlah variabel yang diteliti, (b) prediksi tentang pola hubungan antar variabel, (c) dekomposisi hubungan antar variabel, dan (d) jumlah parameter yang diestimasi.

Sumber Disini

PERAN TEORI DALAM PENELITIAN KUALITATIF

Leave a comment

Setelah mempelajari makalah ini, Anda diharapkan mampu:
·         memahami pengertian teori,
·         mengetahui fungsi teori,
·         mengetahui jenis-jenis teori,
·         mengetahui unsur-unsur teori,
·         mengetahui bagaimana penyusunan teori yang tepat dalam penelitian kualitatif, dan
·         mengetahui verifikasi teori.
A.    Pendahuluan
Penelitian kualitatif merupakan penelitian yang berusaha menemukan teori yang berasal dari data (Moleong, 2002:27—28). Oleh karena itu, teori yang digunakan dalam penelitian kualitatif sangat berpengaruh. Baik dimulai dari penemuan fenomena sampai pada simpulan.
Kenyataan di lapangan, para peneliti kualitatif jarang memasukkan teori ke dalam interpretasi data mereka. Hal itu dikarenakan peneliti kualitatif lebih menyukai pembahasan masalah atau generalisasi penelitian. Padahal, dalam penelitian kualitatif, bukan masalah atau generalisasi penelitian yang lebih penting, melainkan pengujian teori.
Kasiram juga menyebutkan pentingnya teori dalam penelitian kualitatif. Teori sering disebut sebagai pisau bedah fenomena, sekaligus sebagai pisau analisis data dalam rangka konstruksi teori baru temuan (Kasiram, 2010:309).
Walaupun penelitian kualitatif beranjak dari teori, namun tidak semua teori teoritis dan dapat digunakan atau dimasukkan dalam penelitian. Seorang peneliti harus pintar dalam memilih teori yang sesuai dengan inti atau tujuan penelitian.
Untuk menghindari hal tersebut, maka dalam makalah ini, yaitu Peran Teori dalam Penelitian Kualitatif akan menyajikan pemahaman lebih lanjut tentang hal-hal yang berkaitan dengan teori. Diantaranya tentang apa itu teori? Apa fungsi teori? Jenis-jenis teori? Unsur-unsur teori? Bagaimana penyusunan teori yang tepat dalam karya ilmiah? Dan bagaimana verifikasi teori penelitian kualitatif?
Diharapkan melalui pemahaman yang diperoleh dari pembahasan makalah ini, peneliti mampu melakukan penelitian, khususnya penelitian kualitatif dengan lebih baik. Baik dari segi kesesuaian dengan tujuan awal penelitian kualitatif maupun hal-hal yang berhubungan dengan teori pada penelitian kualitatif.
B.    Pembahasan
Dalam pembahasan berikut ini akan membahas apa itu teori? Apa fungsi teori? Jenis-jenis teori? Unsur-unsur teori? Dan bagaimana penyusunan teori yang tepat dalam karya ilmiah?
1.       Pengertian Teori
Teori menurut Moleong (2002: 58) yaitu aturan   yang menjelaskan proposisi atau seperangkat proposisi yang berkaitan dengan beberapa fenomena alamiah. Menurut Snelbecker  dalam Meleong (2002: 34)
“mendefinisikan teori sebagai seperangkat proposisi yang terintergrasi secara sintaksis (yaitu yang mengikuti aturan tertentuyang dapat dihubungkan secara logis satu dengan lainnya dengan data dasar yang dapat diamati) dan berfungsi sebagai wahana untuk meramalkan dan menjelaskan fenomena yang diamati.”
Menurut Marx dan Goodson dalam Moleong (2002: 35) yang menyatakan bahwa
“teori ialah aturan menjelaskan proposisi atau seperangkat proposisi yang berkaitan dengan beberapa fenomena alamiah dan terdiri atas representasi simbolik dari (1) hubungan-hubungan yang dapat diamati di antara kejadian-kejadian (yang diukur), (2) mekanisme atau struktur yang diduga mendasari hubungan-hubungan demikian, dan (3) hubungan-hubungan yang disimpulkan serta mekanisme dasar yang dimaksudkan untuk data dan yang diamati tanpa adanya manifestasi hubungan empiris apapun secara langsung.”
Menurut Glaser dan Stauss dalam Moleong (2002: 35) menyatakan bahwa
“konsep dasar teori klasik dengan menyodorkan rumusan teori dari dasar, yaitu teori yang berasal dari data dan yang diperoleh secara analitis dan sistematis melalui metode komparatif; selanjutnya dikemukakan bahwa unsul-unsul teori mencakup kategori konseptual dengan kawasannya dan hipotesis atau hubungan yang digeneralisasikan di antara kategori dan kawasan.”
Sesuai Kasiram (2010:316) dan Sugiyono (2010:81), teori adalah konseptualisasi umum yang diperoleh melalui jalan sistematis dan harus dapat diuji kebenarannya.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, teori merupakan
“seperangkat kontruk (konsep), definisi, dan proposisi yang menyajikan gejala (fenomena) secara sistematis, merinci hubungan antara variabel-variabel, dengan tujuan meramalkan dan menerangkan gejala tersebut” (Kenlinger dalam Sevilla, Consuelo G., dkk. [1993:30]).
Sesuai dengan pengertian teori tersebut, proposisi adalah hubungan dua konsep atau lebih yang masih abstrak. Konsep adalah abtraksi fenomena yang dirumuskan berdasarkan ciri khusus dari fenomena itu dari hasil observasi (Kasiram, 2010:317).
2.     Fungsi Teori
Menurut Snelbecker dalam Moleong
“Fungsi teori adalah meramalkan dan menjelaskan perilaku, menemukan teori lainnya, untuk aplikasi plaktis, memberikan perspektif bagi usaha jarigan data, membimbing dan menyajikan gaya penelitian (Moleong, 2002:58).”
Singarimbun dan Effendi (1989:37), teori berfungsi menjelaskan secara sistematis suatu fenomena dengan cara menentukan hubungan antarkonsep. Selain itu, teori juga menerangkan fenomena tertentu dengan cara menetukan konsep mana yang berhubungan dengan konsep lainnya dan bagaimana bentuk hubungan tersebut.
Sedangkan Sevilla, Consuelo G., dkk. (1993:30) menyebutkan fungsi teori, yaitu
“(1) sebagai suatu kerangka konsepsi penelitian dan memberikan alasan perlunya penyelidikan, (2) melalui teori kita dapat menyusun pertanyaan-pertanyaan yang terinci sebagai pokok masalah penyelidikan, dan (3) untuk menampilkan hubungan antara variabel-variabel yang telah diselidiki.”
Melalui teori, (1) peneliti mendapatkan masukan dalam memaknai persoalan dan (2) teori juga dipakai sebagai informasi pembanding atau tambahan untuk melihat gejala yang diteliti secara lebih utuh (Tamsa, 2011).
                 Berdasarkan beberapa pendapat ahli di atas, maka fungsi teori adalah (1) meramalkan, menjelaskan, dan menemukan teori lain, (2) memberikan perspektif jaringan, (3) memberikan alasan perlunya penelitian, (4) menyusun pertanyaan sebagai pokok masalah, (5) menampilkan hubungan antarvariabel, konsep, dan menerangkan fenomena sebagai masukan dalam mengambil persoalan dan informasi pembanding.
3.     Jenis Teori
Dalam perkembangnnya, teori dibedakan menjadi beberapa jenis, yaitu teori substantif dan teori formal (Moleong, 2002:37). Teori substantif adalah teori yang dikembangkan untuk keperluan substantif atau empiris dalam ingkuiri dalam suatu ilmu pengetahuan, misanya antropologi,sosiologi, dan psikologi. Sedangkan teori formal adalah teori untuk keperluan formal atau yang disusun secara konseptual dalam bidang ingkuiri suatu ilmu pengetahuan, misalnya sosiologi, contohnya prilaku agresif, organisasi formal, sosialisasi, dst (Gleser dan Strauss dalam Maleong, 2002:37-38).
Teori formal yang berasal dari bidang substantif memiliki kegunaan, yaitu (1) menguji teori formal dari para ahli terkenal, (2) membandingkan hasil-hasil penelitian melalui arahan dan bimbingan teori pokok yang dianalisis secara sistematis, (3) memberikan arti yang lebih besar terhadap isi daripenerapan teori formal yang sudah diketahui peneliti pada bidang substantif, dan (4) berguna dalam penyusunan teori yang masih agak longgar tentang gagasan atau teori forma, dugaan, konsep, atau hipotesis mengenai bidang substantif yang sedang dipikirkan (moleong, 2002:46).
4.     Unsur Teori
Menurut Kasiram, 2010:327, unsur pokok suatu teori yaitu proposisi, klasifikasi, konsep, dan variabel. Proposisi merupakan pola hubungan antarkonsep atau antarklasifikasi atau antarvariabel, seperti hubungan antarpenjual dan pembeli. Proposisi biasanya berbentuk hipotesis atau tesis. Konsep merupakan nama yang diberikan pada sebuah gejala atau benda dengan ciri-ciri tertentu, seperti pendidik, alat pendidikan, produsen, konsumen, sikap, minat, dst. Klasifikasi yaitu pengelompokan aspek atau bagian atau unsur dari teori, seperti intra-ekstra kurikuler, pedagang-produsen, benda padat-cair, gas, dst. Variabel yaitu fariasi dari suatu konsep, klasifikasi, proposisi, atau gejala yang di dalamnya terdiri dari beberapa ragam fariasi atau jenis, seperti variabel guru tetap dan guru tidak tetap, dsb.
Berdasarkan uraian di atas, unsur-unsur teori dapat disederhanakan menjadi (1) kategori konseptual dan kawasan konseptual dan (2) hipotesis atau hubungan generasi di antara kategori dan kawasannya serta integrasi. Aspek merupakan unsur suatu kategori, sedangkan kategori adalah unsur konseptual suatu teori. Hipotesis dicapai melalui analisis perbandingan antarkelompok. Sedangkan analisis perbandingan antarkelompok menghasilkan kategori dan mempercepat adanya hubungan antarkelompok. Unsur teori ke tiga yaitu integrasi. Instegrasi merupakan gabungan hipotesis dan kategori konseptual sehingga diperoleh hipotesis yang lebih khusus (Moleong, 2002:38).
 
5.       Penyusunan Teori
Berdasarkan jenis teori, penyusunan teori dalam penelitian kualitatif dibedakan menjadi dua, yaitu penyusunan teori substantif dan penyusunan teori formal. Penyusunan teori substantif dilakukan melalui usaha menemukan kategori dengan kawasannya dengan kata lain mencari hubungan logis untuk dirumuskan dalam hipotesis dengan memanfaatkan integrasi antara kategori dengan kawasannya. Dalam penyusunannya, teori substantif menggunakan metode analisis komparatif (Moleong, 2002:59). Sebagai contoh judul penelitian dengan teori substrantif yaitu, “Risiko Keuangan Bank Pengkreditan Rakyat Konvensional dan Bank Pengkreditan Rakyat Syariah” atau “Kinerja Keuangan Perusahaan dengan Menggunakan Metode Konvensional dan Economic Value”.
Pada teori formal, penyusunan teori dilakukan secara langsung atau tidak langsung. Penyusunan teori formal tidak langsung dilakukan melalui teori substantif terlebih dahulu. Dalam Moleong (2002:43) menyebutkan bahwa peyusunan teori formal secara tidak langsung ada dua jenis, yaitu teori formal satu bidang dan teori formal dua bidang atau bidang ganda.
Pada penyusunan teori formal satu bidang, cara penulisan berasal dari teori substantif atau berasal dari satu bidang substantif. Dalam penulisan teori formal satu bidang ini, peneliti melakukannya dengan jalan menghapus kata-kata substantif, frasa, atau kata-kata sifat. Misalnya: (1) aspek temporer dari kematian sebagai jaminan status tak terjadwal, ditulis menjadi aspek temporer sebagai jaminan status tak terjadwal; kata dari kematian dapat dihilangkan karena memiliki (2) bagaimana cara dokter dan perawat memberikan perhatian secara medis pada pasien yang menghadapi maut dari segi nilai sosial pasien, menjadi bagaimana pelayanan profesional terbagi dilihat dari segi nilai sosial menurut klien.
Penyusunan teori formal bidang ganda dilakukan melalui penarikan kategori inti dengan kawasannya lalu menyusun teori yang sudah siap dan relevan. Untuk menyusun teori formal bidang ganda ini perlu digunakan logika sebagaimana digunakan dalam teori substantif. Logika ini memberikan petunjuk efektif untuk memilih kelompok ganda dari satu bidang substantif. Selain itu, logika juga memberikan petunjuk dalam memperoleh banyak data dari berbagai jenis bidang substantif (maleong, 2002:44).
6.     Verifikasi Teori
Pembentukan teori dalam penelitian kualitatif dapat dilakukan melalui verifikasi terhadap suatu teori yang berlaku atau terhadap teori baru yang baru muncul dari data. Verifikasi tersebut dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu cara implisit dan eksplisit yang dilakukan secara berkesinam bungan semenjak data lapangan mulai masuk. Verifikasi implisit memiliki peranan penting dalam membimbing peneliti ke arah (1) pembentukan uniformitas dan universalitas pokok, (2) variasi strategi dari teori kepada konsidi yang berbeda, (3) modifikasi teori dari dasar (Moleong, 2002:46—47). Melalui verifikasi suatu teori, peneliti mungkin juga akan menemukan teori baru. Namun pada dasarnya, fokus utama ahanya pada pengujian suatu teori.
C.    Simpulan dan saran
Setelah mengkaji uraian di atas, maka dalam subbab ini diperoleh simpulan dan saran sebagai berikut
1.   Simpulan
Teori merupakan seperangkat kontruk (konsep), definisi, dan proposisi yang menyajikan gejala (fenomena) secara sistematis, merinci hubungan antara variabel-variabel, dengan tujuan meramalkan dan menerangkan gejala tersebut.
Teori juga memiliki fungsi, yaitu (1) meramalkan, menjelaskan, dan menemukan teori lain, (2) memberikan perspektif jaringan, (3) memberikan alasan perlunya penelitian, (4) menyusun pertanyaan sebagai pokok masalah, (5) menampilkan hubungan antarvariabel, konsep, dan menerangkan fenomena sebagai masukan dalam mengambil persoalan dan informasi pembanding.
Dalam perkembangnnya, teori dibedakan menjadi beberapa jenis, yaitu teori substantif dan teori formal. Teori substantif adalah teori yang dikembangkan untuk keperluan substantif atau empiris dalam ingkuiri dalam suatu ilmu pengetahuan, misanya antropologi,sosiologi, dan psikologi. Sedangkan teori formal adalah teori untuk keperluan formal atau yang disusun secara konseptual dalam bidang ingkuiri suatu ilmu pengetahuan.
Unsur-unsur teori dapat disederhanakan menjadi (1) kategori konseptual dan kawasan konseptual dan (2) hipotesis atau hubungan generasi di antara kategori dan kawasannya serta integrasi.
Berdasarkan jenis teori, penyusunan teori dalam penelitian kualitatif dibedakan menjadi dua, yaitu penyusunan teori substantif dan penyusunan teori formal. Penyusunan teori substantif dilakukan melalui usaha menemukan kategori dengan kawasannya dengan kata lain mencari hubungan logis untuk dirumuskan dalam hipotesis dengan memanfaatkan integrasi antara kategori dengan kawasannya. Pada teori formal, penyusunan teori dilakukan secara langsung atau tidak langsung.
Pembentukan teori dalam penelitian kualitatif dapat dilakukan melalui verifikasi terhadap suatu teori yang berlaku atau terhadap teori baru yang baru muncul dari data. Verifikasi tersebut dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu cara implisit dan eksplisit yang dilakukan secara berkesinam bungan semenjak data lapangan mulai masuk.
2.   Saran
Berdasarkan hasil makalah ini, diharapkan peneliti mampu memahami pengertian teori secara benar, mengetahui fungsi teori secara menyeluruh, mengetahui jenis-jenis teori yang sedang berkembang, mengetahui unsur-unsur teori, mengetahui bagaimana penyusunan teori yang tepat dalam penelitian kualitatif, dan mengetahui verifikasi teori.

 

Daftar Pustaka
Arikunto, Suharsimi. 2007. Manajemen Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.
Brannen, Yulian. 1997. Memandu  Metode Penelitoian  Kualitatif dan  Kuantitatif. Yogjakarta: Pustaka Pelajar.
Creswell, John W. 2003. RESEARCH DESIGN: Qualitative, Quantitative, and Mixed Methods Approaches. Thousand Oaks: SAGE Publications.
Denzin Norman K., and Yvonna S. Lincoln (Eds. ). 1994. Handbook of Qualitative Research.Thousand Oaks: SAGE Publications.
Kasiram,  Mohamad. 2010. Metodologi Penelitian Kualitatif-Kuantitatif. Malang: UIN- MALIKI PRESS.
Maleong, Lexy.J. 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Noeng, Muhadjir. 2002. Metodelogi Penelitian Kualitatif. Yogjakarta: Rakesarasin sukses offed.
Sevila, Consuelo G., dkk. 1993. Pengantar  Metode  Penelitian. Jakarta: UI–Press.
Singaribuan, Masri, dkk. Metode Penelitian Survai. Jakarta: LP3ES Indonesia.
Sugiono. 2010. Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Tamsa. 2011. Peran Teori Kualitatifhttp://Tamsa-peran-teori-kualitatif.i15274671(diakses tanggal 24 September 2011).

Sumber Disini

KONSEP PENELITIAN KUANTITATIF DAN KUALITATIF

Leave a comment

A. Pendekatan Penelitian Kuantitatif

1.      Hakikat Penelitian Kuantitatif

Pendekatan kuantitatif merupakan salah satu upaya pencarian ilmiah (scientific inquiry) yang didasari oleh filsafat positivisme logikal (logical positivism) yang beroperasi dengan aturan-aturan yang ketat mengenai logika, kebenaran, hukum-hukum, dan prediksi (Watson, dalam Danim 2002). Fokus penelitian kuantitatif diidentifikasikan sebagai proses kerja yang berlangsung secara ringkas, terbatas dan memilah-milah permasalahan menjadi bagian yang dapat diukur  atau dinyatakan dalam angka-angka.

Pendekatan kuantitatif mementingkan adanya variabel-variabel sebagai obyek penelitian dan variabel-variabel tersebut harus didefenisikan dalam bentuk operasionalisasi variable masing-masing.  Reliabilitas dan validitas merupakan syarat mutlak yang harus dipenuhi dalam menggunakan pendekatan ini karena kedua elemen tersebut akan menentukan kualitas hasil penelitian dan kemampuan replikasi serta generalisasi penggunaan model penelitian sejenis. Selanjutnya, penelitian kuantitatif memerlukan adanya hipotesa dan pengujiannya yang kemudian akan menentukan tahapan-tahapan berikutnya, seperti penentuan teknik analisa dan formula statistik yang akan digunakan. Juga, pendekatan ini lebih memberikan makna dalam hubungannya dengan penafsiran angka statistik bukan makna secara kebahasaan dan kulturalnya.

2.      Prosedur Penelitian Kuantitatif

Langkah-langkah penelitian kuantitatif adalah operasionalisasi metode ilmiah dengan memperhatikan unsur-unsur keilmuan. Penelitian kuantitatif sebagai kegiatan ilmiah berawal dari masalah, merujuk teori, mengemukakan hipotesis, mengumpulkan data, menganalisis data, dan membuat kesimpulan. Penelitian kuantitatif berawal dari adanya masalah yang dapat digali dari sumber empiris dan teoretis, sebagai suatu aktivitas penelitian pendahuluan (prariset).  Agar masalah ditemukan dengan baik memerlukan fakta-fakta empiris dan diiringi dengan penguasaan teori yang diperoleh dari mengkaji berbagai literatur relevan. Penelitian dilakukan secara sistematis, empiris, dan kritis mengenai fenomena-fenomena yang dipandu oleh teori serta hipotesis.

Kegiatan penelitian dimulai dengan mengidentifikasikan permasalahan atau isu-isu yang penting, aktual dan menarik. Dan yang paling penting adalah manfaat yang dihasilkan bila masalah itu diteliti. Masalah dapat digali dari berbagai sumber empiris ataupun teoretis sebagai aktivitas penelitian pendahuluan (pra-penelitian). Agar masalah ditemukan dengan baik diperlukan fakta-fakta empiris diiringi penguasaan teori yang diperoleh melalui  pengkajian  berbagai literatur relevan.  Pada tahap selanjutnya, penelitian melihat tujuan sebagai suatu permasalahan. Masalah yang telah ditemukan diformulasikan dalam sebuah rumusan masalah. Pada umumnya rumusan masalah penelitian  kuantitatif  disusun dalam bentuk pertanyaan. Rumusan masalah merupakan penentuan faktor-faktor atau aspek-aspek yang terkait dengan lingkup kajian penelitian.

Dalam praktiknya faktor-faktor serta aspek-aspek yang berkaitan dengan kajian permasalahan sangat banyak dan kompleks. Oleh karena itu diperlukan pembatasan pada faktor atau aspek yang dominan saja. Penelitian membagi permasalahan menjadi sub-sub permasalahan yang dapat dikelola dalam arti layak dan terjangkau untuk diteliti. Setiap sub permasalahan dicari kemungkinan jawabannya secara spesifik dalam bentuk hipotesis yang sesuai. Dalam hal inilah diperlukan studi kepustakaan yaitu kegiatan untuk mengkaji teori-teoriyang mendasari penelitian. Dalam kegiatan ini juga dikaji hal-hal empiris yang bersumber dari penelitian-penelitian terdahulu. Penelitian menahan sementara hipotesis atau pertanyaan sampai semua data terkumpul dan diinterpretasikan.

Pada tahap selanjutnya, penelitian diarahkan untuk mencari data didasari oleh rumusan masalah dan hipotesis yang dikemukakan sebelumnya. Dalam hal ini diperlukan desain penelitian yang berisi tahapan penelitian, metode penelitian, teknik pengumpulan data, sumber data  (populasi dan sampel), serta  alasan mengapa menggunakan metode tersebut. Sebelum kegiatan pengumpulan data dilakukan, terlebih dahulu harus ditetapkan teknik penyusunan dan pengujian instrumen yang akan digunakan  untuk pengumpulan data. Data yang diperoleh kemudian di analisis menggunakan teknik  statistik. Hasil analisis data merupakan temuan yang belum diberi makna.

Pemaknaan hasil analisis data dilakukan melalui interpretasi yang mengarah pada upaya mengatasi masalah atau menjawab pertanyaan penelitian. Dalam tahapan ini dikemukakan tentang penerimaan atau penolakan hipotesis. Interpretasi dibuat dengan melihat hubungan antara temuan yang satu dengan temuan lainnya. Kesimpulan merupakan generalisasi hasil interpretasi. Terhadap kesimpulan yang diperoleh maka diciptakanlah implikasi dan rekomendasi serta saran dalam pemanfaatan hasil penelitian.

B. Pendekatan Penelitian Kualitatif

1.      Hakikat Penelitian Kualitatif

Dasar penelitian kualitatif adalah konstruktivisme yang berasumsi bahwa kenyataan itu berdimensi jamak, interaktif dan suatu pertukaran pengalaman sosial yang diinterpre-tasikan oleh setiap individu (Sukmadinata, 2005). Peneliti kualitatif percaya bahwa kebenaran adalah dinamis dan dapat ditemukan hanya melalui penelaahan terhadap orang-orang melalui interaksinya dengan situasi sosial mereka (Danim, 2002). Penelitian kualitatif mengkaji perspektif partisipan dengan strategi-strategi yang bersifat interaktif dan fleksibel. Penelitian kualitatif ditujukan untuk memahami fenomena-fenomena sosial dari sudut pandang partisipan. Dengan demikian penelitian kualitatif adalah penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi objek alamiah dimana peneliti merupakan instrumen kunci (Sugiyono, 2005).

Pendekatan kualitatif menekankan pada makna, penalaran, definisi suatu situasi tertentu (dalam konteks tertentu), lebih banyak meneliti hal-hal yang berhubungan dengan  kehidupan sehari-hari. Pendekatan kualitatif, lebih lanjut, mementingkan pada proses dibandingkan dengan hasil akhir; oleh karena itu urut-urutan kegiatan dapat berubah-ubah tergantung pada kondisi dan banyaknya gejala-gejala yang ditemukan. Tujuan penelitian biasanya berkaitan dengan hal-hal yang bersifat praktis.

Penelitian  kualitatif  menggunakan lingkungan alamiah sebagai sumber data.  Peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam  suatu  situasi sosial merupakan kajian utama penelitian kualitatif. Peneliti pergi ke lokasi tersebut, memahami dan mempelajari situasi. Studi dilakukan pada waktu interaksi berlangsung di tempat kejadian.  Peneliti mengamati, mencatat, bertanya, menggali sumber yang erat hubungannya dengan peristiwa yang terjadi saat itu. Hasil-hasil yang diperoleh pada saat itu segera disusun saat itu pula. Apa yang diamati pada dasarnya tidak lepas dari konteks lingkungan di mana tingkah laku berlangsung. Misalnya peneliti ingin mengetahui peran kepala sekolah dalam pembinaan guru. Peneliti harus mendatangi suatu sekolah kemudian mengali informasi yang terkait dengan peran kepala sekolah dalam pembinaan guru  baik itu dari kepala sekolah, guru, maupun dokumen sekolah.

Penelitian kualitatif sifatnya deskriptif analitik. Data yang diperoleh seperti hasil pengamatan, hasil wawancara, hasil pemotretan, analisis dokumen, catatan lapangan, disusun peneliti di lokasi penelitian, tidak dituangkan dalam bentuk dan  angka-angka. Peneliti segera melakukan analisis data dengan memperkaya informasi, mencari hubungan, membandingkan, menemukan pola atas dasar data aslinya (tidak ditransformasi dalam bentuk angka). Hasil analisis data berupa pemaparan mengenai situasi yang diteliti yang disajikan dalam bentuk uraian naratif. Hakikat pemaparan data pada umumnya menjawab pertanyaan-pertanyaan mengapa dan bagaimana suatu fenomena terjadi. Untuk itu peneliti dituntut memahami dan menguasai bidang ilmu yang ditelitinya sehingga dapat memberikan justifikasi mengenai konsep dan makna yang terkandung dalam data. Misalnya ketika peneliti ingin mengetahui peran kepala sekolah dalam pembinaan guru, berdasarkan data/ informasi yang ada peneliti harus mampu menguraikan tujuan kepala sekolah dalam pembinaan guru, langkah-langkah yang dilakukan kepala sekolah dalam pembinaan guru, serta bagaimana respon guru terhadap pembinaan yang dilakukan oleh kepala sekolah.

Tekanan penelitian kualitatif ada pada proses bukan pada hasil. Data dan informasi yang diperlukan berkenaan dengan pertanyaan apa, mengapa, dan bagaimana untuk mengungkap proses bukan hasil suatu kegiatan. Apa yang  dilakukan, mengapa dilakukan dan bagaimana cara melakukannya memerlukan pemaparan suatu proses mengenai fenomena tidak  dapar dilakukan dengan ukuran frekuensinya saja.  Pertanyaan di atas menuntut gambaran nyata tentang kegiatan, prosedur, alasan-alasan, dan interaksi yang terjadi dalam konteks lingkungan di mana dan pada saat mana proses itu berlangsung. Proses alamiah dibiarkan terjadi tanpa intervensi peneliti, sebab proses yang terkontrol tidak akan menggambarkan keadaan yang sebenarnya. Peneliti tidak perlu mentaransformasi data menjadi angka untuk mengindari hilangnya informasi yang telah diperoleh. Makna suatu proses dimunculkan konsep-konsepnya untuk membuat prinsip bahkan teori sebagai suatu temuan atau hasil penelitian tersebut. Misalnya ketika meneliti peran kepala sekolah dalam pembinaan guru, peneliti tidak mengukur frekuensi pembinaan yang dilakukan akan tetapi mengamati untuk apa pembinaan dilakukan serta bagaimana cara pembinaan dilaksanakan.

Penelitian kualitatif sifatnya induktif. Penelitian kualitatif tidak dimulai dari deduksi teori, tetapi dimulai dari lapangan yakni fakta empiris. Peneliti terjun ke lapangan, mempelajari suatu proses atau penemuan yang tenjadi secara alami, mencatat, menganalisis, menafsirkan dan melaporkan serta menarik kesimpulan-kesimpulan dari proses tersebut. Kesimpulan atau generalisasi kepada lebih luas tidak dilakukan, sebab proses yang sama dalam konteks lingkungan tertentu, tidak mungkin sama dalam konteks lingkungan yang lain baik waktu maupun tempat.  Temuan penelitian dalam bentuk konsep, prinsip, hukum, teori dibangun dan dikembangkan dari lapangan bukan dari teori yang telah ada. Prosesnya induktif  yaitu dari data yang terpisah  namun  saling berkaitan.  Misalnya ketika meneliti peran kepala sekolah dalam membina guru, peneliti harus berusaha menemukan prinsip dan konsep-konsep  atas dasar  fakta. Peneliti tidak berupaya menerapkan teori/ konsep yang terkait dengan  pembinaan, akan tetapi berusaha menemukan konsep berdasarkan fakta dari lapangan.

Penelitian kualitatif mengutamakan makna.  Makna yang diungkap berkisar pada persepsi orang mengenai suatu peristiwa. Misalnya penelitian tentang peran kepala sekolah dalam pembinaan guru, peneliti memusatkan perhatian pada pendapat kepala sekolah tentang guru yang dibinanya. Peneliti mencari informasi dari  kepala sekolah  dan pandangannya tentang keberhasilan dan kegagalan  membina guru. Apa yang dialami  dalam membina guru, mengapa guru gagal dibina, dan bagaimana hal itu terjadi. Sebagai bahan pembanding peneliti mencari informasi dari guru agar dapat diperoleh titik-titik temu dan pandangan mengenai mutu pembinaan yang dilakukan kepala sekolah. Ketepatan informasi dari partisipan (kepala sekolah dan guru)  diungkap oleh  peneliti agar dapat menginterpretasikan  hasil penelitian secara sahih dan tepat.

Berdasarkan ciri di atas dapat disimpulkan bahwa penelitian kualitatif tidak dimulai dari  teori yang dipersiapkan sebelumnya, tapi dimulai dari lapangan berdasarkan lingkungan alami. Data dan informasi lapangan ditarik maknanya dan konsepnya, melalui pemaparan deskriptif analitik, tanpa harus menggunakan  angka, sebab lebih mengutamakan proses terjadinya suatu peristiwa dalam situasi yang alami. Generalisasi tak perlu dilakukan sebabdeskripsi dan interpretasi terjadi dalam konteks dan situasi tertentu. Realitas yang kompleks dan selalu berubah menuntut peneliti cukup lama berada dilapangan.

2.      Prosedur Penelitian Kualitatif

Prosedur penelitian kualitatif memiliki perbedaan dengan penelitian kuantitatif. Penelitian kualitatif biasanya didesain secara longgar, tidak ketat, sehingga dalam pelaksanaan penelitian berpeluang mengalami perubahan dari apa yang telah direncanakan. Hal itu dapat terjadi bila perencanaan ternyata tidak sesuai dengan apa yang dijumpai di lapangan. Meski demikian, kerja penelitian mestilah merancang langkah-langkah kegiatan penelitian. Paling tidak terdapat tiga tahap utama dalam penelitian kualitatif yaitu (Sugiyono, 2007):

1.      Tahap deskripsi atau tahap orientasi. Pada tahap ini, peneliti mendeskripsikan apa yang dilihat, didengar dan dirasakan. Peneliti baru mendata sepintas tentang informasi yang diperolehnya.

2.      Tahap reduksi. Pada tahap ini, peneliti mereduksi segala informasi yang diperoleh pada tahap pertama untuk memfokuskan pada masalah tertentu.

3.      Tahap seleksi. Pada tahap ini,  peneliti menguraikan fokus yang telah ditetapkan menjadi lebih rinci kemudian melakukan analisis secara mendalam tentang fokus masalah. Hasilnya adalah tema yang dikonstruksi berdasarkan data yang diperoleh menjadi suatu pengetahuan, hipotesis, bahkan teori baru.

Secara spesifik, ketiga tahap di atas dapat djabarkan dalam tujuh langkah penelitian kualitatif yaitu: identifikasi masalah, pembatasan masalah, penetapan fokus masalah, pelaksanaan penelitian, pengolahan dan pemaknaan data, pemunculan teori, dan pelaporan hasil penelitian  (Sudjana, 2001).

Langkah pertama: mengidentifikasi masalah. Suatu masalah merupakan suatu keadaan yang menyebabkan seseorang bertanya-tanya, berpikir, dan berupaya menemukan kebenaran yang ada. Fenomena masalah tersebut terjadi karena adanya sesuatu yang diharapkan, dipikirkan, dirasakan tidak sama dengan kenyataan,  sehingga timbul “pertanyaan”  yang  menantang untuk ditemukan “jawabannya”. Atas dasar prinsip masalah tersebut, dalam mengidentifikasi masalah dapat muncul pertanyaan yang terkait dengan apakah, mengapa, dan bagaimana. Dari pertanyaan yang muncul tergambar substansi masalah  yang  terkait dengan  pendekatan atau jenis  penelitian tertentu. Dengan kata lain, jenis penelitian apa yang harus digunakan peneliti bergantung pada masalah yang ada. Di dalam penelitian sebaiknya seorang peneliti melakukan identifikasi masalah dengan mengungkapkan semua permasalahan yang terkait dengan bidang yang akan ditelitinya.

Tahapan dan Langkah-langkah Penelitian Kualitatif

Langkah kedua: pembatasan masalah yang dalam penelitian kualitatif sering disebut fokus penelitian. Sejumlah masalah yang diidentifikasi dikaji dan dipertimbangkan apakah perlu direduksi atau tidak. Pertimbangannya antara lain atas  dasar  keluasan lingkup kajian.  Kajian  yang terlalu luas memungkinkan adanya hambatan dan tantangan yang lebih banyak. Kajian yang terlalu spesifik memerlukan kemampuan khusus untuk dapat melakukan kajian secara mendalam. Pembatasan masalah merupakan langkah penting dalam menentukan kegiatan penelitian. Meski demikian, pembatasan masalah penelitian kualitatif tidaklah bersifat kaku/ketat. Pembatasan masalah dapat dilakukan dengan mengajukan sejumlah pertanyaan antara lain:

1.      Dapatkah masalah tersebut dikembangkan untuk diteliti?

2.      Adakah data atau informasi yang dapat dikumpulkan untuk menemukan jawaban atas masalah yang dipilih?

3.      Apakah masalah dan pemecahannya cukup bermanfaat?

4.      Apakah masalah tersebut baru dan aktual?

5.      Sudah adakah orang yang melakukan pemecahan masalah tersebut?

6.      Apakah masalah tersebut layak diteliti  dengan melihat  kemampuan peneliti, akses memperoleh informasi, serta ketersediaan dana dan waktu?

Langkah ketiga: penetapan  fokus  penelitian.  Penetapan fokus berarti membatasi kajian. Dengan menetapkan fokus masalah berarti peneliti telah melakukan pembatasan bidang kajian, yang berarti pula membatasi bidang temuan.  Menetapkan fokus berarti  menetapkan  kriteria data penelitian. Dengan pedoman fokus masalah seorang peneliti dapat menetapkan data yang harus dicari. Data yang dikumpulkan hanyalah data yang relevan dengan fokus penelitian. Peneliti dapat mereduksi data yang tidak relevan dengan fokus penelitian.  Sebagai catatan bahwa dalam penelitian kualitatif dapat terjadi penetapan fokus penelitian baru dilakukan dan dipastikan pada saat peneliti berada di lapangan. Hal itu dapat terjadi bila fokus masalah yang telah dirumuskan secara baik, namun  setelah  di lapangan tidak mungkin dilakukan penelitian sehingga diubah, diganti, disempurnakan atau dialihkan. Peneliti memiliki peluang untuk menyempurnakan, mengubah, atau menambah fokus penelitian.

Langkah keempat: pengumpulan data. Pada tahap ini yang perlu dipenuhi antara lain rancangan atau skenario penelitian, memilih dan menetapkan setting  (latar) penelitian, mengurus perijinan, memilih dan menetapkan informan (sumber data), menetapkan strategi dan teknik pengumpulan data, serta  menyiapkan sarana dan prasarana penelitian.  Pengumpulan data dilakukan dengan menemui sumber data. Hal-hal yang perlu diperhatikan saat melakukan pengumpulan  data  adalah menciptakan hubungan yang baik antara peneliti dengan  sumber data. Hal  ini  terkait dengan teknik pengumpulan data yang akan digunakan misalnya observasi, wawancara  atau pengamatan.

Langkah kelima: pengolahan dan pemaknaan data. Pada penelitian yang lain pada umumnya pengolahan data dan pemaknaan data dilakukan setelah data terkumpul atau kegiatan pengumpulan di lapangan dinyatakan selesai. Analisis data  kualitatif yang  meliputi pengolahan dan pemaknaan data dimulai sejak peneliti  memasuki  lapangan. Selanjutnya, hal yang sama dilakukan secara kontinyu pada saat pengumpulan sampai akhir kegiatan pengumpulan data secara berulang sampai data jenuh (tidak diperoleh lagi informasi baru).  Dalam  hal  ini, hasil analisis dan pemaknaan data akan berkembang, berubah, dan bergeser sesuai perkembangan dan perubahan data yang ditemukan di lapangan.

Langkah keenam: pemunculan teori.  Peran teori dalam penelitian kualitatif  berbeda dengan penelitian kuantitatif. Dalam penelitian kualitatif teori tidak dimanfaatkan untuk membangun kerangka pikir dalam menyusun hipotesis. Penelitian kualitatif bekerja secara induktif dalam rangka menemukan hipotesis. Teori  berfungsi  sebagai  alat dan berfungsi sebagai fungsi tujuan. Teori sebagai alat dimaksudkan bahwa dengan teori yang ada peneliti dapat melengkapi dan menyediakan keterangan terhadap fenomena yang ditemui.  Teori sebagai tujuan  mengandung makna bahwa temuan penelitian dapat dijadikan suatu teori baru.

Langkah ketujuh: pelaporan hasil penelitian. Laporan hasil penelitian merupakan bentuk pertanggungjawaban peneliti setelah melakukan kegiatan pengumpulan data penelitian dinyatakan selesai. Dalam konteks yang seperti ini, pelaporan hasil penelitian secara tertulis memiliki nilai guna setidaknya dalam empat hal, yaitu:

1.      Sebagai kelengkapan  proses penelitian yang harus dipenuhi oleh para peneliti dalam setiap kegiatan penelitian

2.      Sebagai hasil nyata peneliti dalam merealisasi kajian ilmiah

3.      Sebagai dokumen autentik suatu kegiatan ilmiah yang dapat dikomuni-kasikan kepada masyarakat ataupun sesama peneliti

4.      Sebagai hasil karya nyata yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan bergantung pada kepentingan peneliti (Sukardi, 2003).

Sumber Lihat Disini

Beasiswa Australia Awards 2014 Dibuka!

Leave a comment

Pemerintah Australia membuka program Beasiswa Australia Awards 2014. Beasiswa akan diberikan kepada 500 pelajar Indonesia untuk menempuh studi di Benua Kanguru.

Duta Besar Australia untuk Indonesia, Greg Moriarty, menjelaskan, program ini menyediakan tempat bagi 2.399 siswa dari lebih 90 negara untuk belajar di perguruan tinggi Australia pada 2014. Tahun lalu, ada 474 pelajar Indonesia lolos seleksi Beasiswa Australia Awards.

“Beasiswa Australia Awards memberikan kesempatan untuk melakukan perubahan di dunia dan kini Pemerintah Australia mengundang pelamar yang mau menjadi bagian dari generasi baru pemimpin global untuk pembangunan yang bermitra kuat dengan Australia,” ungkap Duta Besar Moriarty, seperti dikutip dari keterangan tertulisnya kepada Okezone,Senin (4/3/2013).

Moriarty menjelaskan, melalui program ini, penerima beasiswa tidak hanya berkesempatan mencicipi pendidikan berkualitas dari berbagai perguruan tinggi di Australia, tetapi juga berkesempatan mendapatkan pengalaman hidup di Australia dan membangun jaringan yang kuat dengan warga serta organisasi di Australia.

“Penerima beasiwa akan menerima bantuan yang berkelanjutan dan pengembangan profesi sepanjang karir mereka melalui jaringan internasional alumni Australian Awards yang menghubungkan masing-masing individu, lembaga dan negara,” imbuhnya.

Pendaftaran program Beasiswa Australia Awards dibuka pada 4 Maret hingga 19 Juli 2013. Simak informasi lengkap tentang Beasiswa Australia Award di laman kedutaan Australia.

Sumber Disini

Pendekatan Dalam Penelitian

Leave a comment

Dalam penelitian ada 2 macam pendekatan, yakni:

1. Pendekatan Deduktif

Pendekatan deduktif adalah pendekatan secara teoritik untuk mendapatkan konfirmasi berdasarkan hipotesis dan observasi yang telah dilakukan sebelumnya. Suatu hipotesis lahir dari sebuah teori, lalu hipotesis ini diuji dengan dengan melakukan beberapa observasi. Hasil dari observasi ini akan dapat memberikan konfirmasi tentang sebuah teori yang semula dipakai untuk menghasilkan hipotesis. Langkah penelitian seperti ini biasa juga disebut pendekatan ‘dari atas ke bawah’. Pendekatan deduktif ini umumnya dilakukan secara matematik lalu dibuktikan dan dikonfirmasi kembali terhadap rumusan matematik tersebut.

2. Pendekatan Induktif

Pendekatan induktif adalah pendekatan yang dilakukan untuk membangun sebuah teori berdasarkan hasil pengamatan atau observasi. Suatu observasi yang dilakukan berkali-kali akan membentuk sebuah pola tertentu. Dari pola tersebut akan lahir hipotesis sementara atau hipotesis tentatif. Hipotesis yang terbentuk berasal dari pola pengamatan yang dilakukan. Setelah dilakukan berulang-ulang, barulah diperoleh sebuah teori. Langkah penelitian seperti ini disebut sebagai pendekatan ’dari bawah ke atas’.

Lebih lanjut, silakan download disini

Sumber:

1. cunop.files.wordpress.com

2. mpkd.ugm.ac.id

Metode Penelitian Deskriptif Studi Kasus

Leave a comment

Salah satu jenis penelitian kualitatif deskriptif adalah berupa penelitian dengan metode atau pendekatan studi kasus (Case Study). Penelitian ini memusatkan diri secara intensif pada satu obyek tertentu yang mempelajarinya sebagai suatu kasus. Data studi kasus dapat diperoleh dari semua pihak yang bersangkutan, dengan kata lain data dalam studi ini dikumpulkan dari berbagai sumber (Nawawi, 2003). Sebagai sebuah studi kasus maka data yang dikumpulkan berasal dari berbagai sumber dan hasil penelitian ini hanya berlaku pada kasus yang diselidiki. Lebih lanjut Arikunto (1986) mengemukakan bahwa metode studi kasus sebagai salah satu jenis pendekatan deskriptif, adalah penelitian yang dilakukan secara intensif, terperinci dan mendalam terhadap suatu organisme (individu), lembaga atau gejala tertentu dengan daerah atau subjek yang sempit.

Penelitian case study atau penelitian lapangan (field study) dimaksudkan untuk mempelajari secara intensif tentang latar belakang masalah keadaan dan posisi suatu peristiwa yang sedang berlangsung saat ini, serta interaksi lingkungan unit sosial tertentu yang bersifat apa adanya (given). Subjek penelitian dapat berupa individu, kelompok, institusi atau masyarakat. Penelitian case study merupakan studi mendalam mengenai unit sosial tertentu dan hasil penelitian tersebut memberikan gambaran luas serta mendalam mengenai unit sosial tertentu. Subjek yang diteliti relatif terbatas, namun variabel-variabel dan fokus yang diteliti sangat luas dimensinya (Danim, 2002 ).

Penelitian studi kasus akan kurang kedalamannya bilamana hanya dipusatkan pada fase tertentu saja atau salah satu aspek tertentu sebelum memperoleh gambaran umum tentang kasus tersebut. Sebaliknya studi kasus akan kehilangan artinya kalau hanya ditujukan sekedar untuk memperoleh gambaran umum namun tanpa menemukan sesuatu atau beberapa aspek khusus yang perlu dipelajari secara intensif dan mendalam. Disamping itu, studi kasus yang baik harus dilakukan secara langsung dalam kehidupan sebenarnya dari kasus yang diselidiki. Walaupun demikian, data studi kasus dapat diperoleh tidak saja dari kasus yang diteliti, tetapi juga dapat diperoleh dari semua pihak yang mengetahui dan mengenal kasus tersebut dengan baik. Dengan kata lain, data dalam studi kasus dapat diperoleh dari berbagai sumber namun terbatas dalam kasus yang akan diteliti tersebut (Nawawi, 2003 ).

Pengertian yang lain, studi kasus bisa berarti metode atau strategi dalam penelitian, bisa juga berarti hasil dari suatu penelitian sebuah kasus tertentu.Dalam konteks tulisan ini, penulis lebih memfokuskan pada pengertian yang pertama yaitu sebagai metode penelitian. Studi kasus adalah suatu pendekatan untuk mempelajari, menerangkan, atau menginterpretasikan suatu kasus dalam konteksnya secara natural tanpa adanya intervensi pihak luar. Pada intinya studi ini berusaha untuk menyoroti suatu keputusan atau seperangkat keputusan, mengapa keputusan itu diambil, bagaimana diterapkan dan apakah hasilnya. (Salim, 2001).

Lebih lengkap dapat Klik Disini

Older Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.