Bentuk Penulisan

Ada banyak ragam dari bentuk penulisan. Pemilihan bentuk penulisan tergantung pada tujuan dari penulisan itu sendiri. Sehingga seharusnya ketika seseorang telah menentukan suatu tema dan tujuan penulisan, maka bentuk penulisan juga sudah harus dipikirkan. Berdasarkan ilmu kebahasaan, dari segi sifatnya, secara garis besar ada dua jenis tulisan yaitu tulisan yang bersifat fiksi dan non-fiksi (Samantho, 2002: 155) yang dijelaskan sebagai berikut:

  • Fiksi

Tulisan yang bersifat fiksi adalah tulisan yang bersifat khayalan, atau bukan kenyataan faktual. Yang termasuk dalam kelompok tulisan fiksi ini pada umumnya adalah karya sastra, seperti: cerpen, novel, roman, drama, prosa puisi. Tapi bagaimanapun, akan selalu ada percampuran antara hal yang nyata (fakta) dan ciptaan dalam menulis fiksi (Hernowo:2003, hal 219).

  • Non fiksi

Tulisan yang bersifat non-fiksi adalah tulisan yang bukan khayalan atau bersifat faktual (sesuai dengan kenyataan/realitas). Di dalam kelompok tulisan non-fiksi ini antara lain tercakup: karya tulis ilmiah, karya tulis jurnalistik, biografi dan otobiografi, proposal program, laporan program kerja, dan laporan perjalanan. Tulisan non-fiksi, apabila dilihat dari tujuan dan sifat tulisannya dapat dibedakan menjadi beberapa jenis wacana, yaitu (Ahmad Y. Samantho, Jurnalistik Islami, Harakah, Jakarta, 2002, hal. 156-158):

  1. Narasi, adalah wacana (tulisan) yang bersifat cerita, yang dituturkan secara berurutan kejadian peristiwanya (kronologis). Contoh: cerita pengalaman hari pertama kuliah.
  2. Deskripsi, adalah wacana yang menggambarkan sesuatu, sehingga pembaca atau pendengar dapat membayangkan gambaran sesuatu itu dalam benaknya (imajinasinya). Contoh: gajah itu binatang besar, berkaki empat, bertelinga lebar, berhidung panjang, dst.
  3. Eksposisi, adalah wacana yang bersifat dan bertujuan menjelaskan, memaparkan, merinci, atau menguraikan sesuatu. Contoh: resep masakan.
  4. Argumentasi, adalah wacana yang bersifat dan bertujuan mengungkapkan suatu pendapat yang diperkuat dengan alasan-alasan berupa bukti data dan fakta (kenyataan), teori ilmiah, dalil, dsb. Tujuannya adalah meyakinkan pembaca tentang kebenaran pendapat yang diungkapkan.
  5. Persuasi, yaitu wacana yang bersifat mengajak, membujuk dan mempengaruhi para pembaca agar mengikuti sesuatu yang terungkap dan diinginkan penulis persuasi tersebut. Contoh: iklan, propaganda, artikel advertorial.

Bentuk tulisan seperti di atas menjadi dasar yang mesti dipahami oleh seorang penulis agar tulisan yang dibuat, bisa dimengerti tidak hanya oleh penulis itu sendiri, tetapi juga bagi orang lain yang membaca tulisannya.

 

Gaya Penulisan

  • Deduktif-induktif

Pada karya tulis atau wacana argumentasi, kejelasan dan kejernihan alur pikiran harus benar-benar logis dan rasional. Proses logika ini antara lain dapat menggunakan metode dedukstif atau induktif (Samantho: 2002, hal.157-158).

  • Deduktif

Merupakan metode berpikir atau berargumentasi dengan cara menghubungkan suatu pernyataan yang bersifat umum atau suatu teori dan dalil, yang sudah diakui dan teruji kebenaran serta keabsahannya, dengan hal-hal lain yang lebih bersifat khusus, atau merupakan bagian dari cakupan teori atau dalil umum tersebut.

  • Induktif

Merupakan metode berpikir atau berargumentasi yang dimulai dengan pengungkapan fakta-fakta khusus atau detail-detail rincian lalu diambil kesimpulan umumnya (generalisasi).

  • Jurnalistik
    • Feature

Di antara para ahli jurnalistik, belum ada kesepakatan mengenai definisi feature. Salah satu definisi yang diberikan Ahmad Y. Samantho dalam bukunya Jurnalistik Islami, feature adalah karangan lengkap yang nonfiksi (bukan khayalan, artinya tetap merupakan berita faktual), namun bukan straigth news, yang dipaparkan secara hidup, kreatif, kadang-kadanag dengan sentuhan subjektivitas pengarang terhadap peristiwa, situasi dan aspek kehidupan manusiawi, dengan penekanan pada daya pikat kepentingan manusiawi (human interest). Untuk mengenali feature dengan lebih baik, buku ini di halaman 179 mengemukakan beberapa ciri dari feature, yaitu:

²         Kreatif

²         Subjektif (human interest)

²         Informatif

²         Menghibur/menggairahkan

²         Awet

²         Panjang

  •  Liputan

Yang dimaksud dengan liputan di sini adalah penulisan berita. Untuk mendefinisikan berita, bukanlah suatu hal yang mudah. Karena berita mencakup banyak faktor variabel (faktor penentu ukurannya) (Earl English dan Clarence Hach dalam Jurnalistik Islami hal. 111). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, berita diartikan sebagai “laporan tentang suatu kejadian yang terbaru” atau “keterangan yang baru tentang suatu peristiwa”. Sedangkan dalam buku Jurnalistik Praktis (Asep Syamsul M. Romli, Jurnalistik Praktis, Bandung, Rosdakarya, 2003 hal.3), berita diartikan sebagai sajian utama sebuah media massa di samping views (opini). Berita yang lengkap harus mempunyai beberapa unsur yang dapat menjelaskan (Samantho:2002, hal.114):

  • What         Apa yang terjadi?
  • Who          Siapa yang terlibat di dalam peristiwa itu?
  • Where       Di mana tempat kejadiannya?
  • When        Kapan waktu kejadiannya?
  • Why          Mengapa bisa terjadi atau sebab-sebab kejadiannya apa?
  • How          Bagaimana akhir ceritanya, kelanjutan peristiwanya?

Selain unsur-unsur itu, ada unsur-unsur lain yang dikenal sebagai nilai-nilai berita (news values) atau nilai-nilai jurnalistik, yaitu: cepat, nyata, penting, menarik.

  • Artikel

Dalam buku Kiat Menulis Artikel di Media Cetak, halaman 19 (M. Arief Hakim), disebutkan bahwa menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1999) artikel didefinisikan sebagai “karya tulis lengkap di majalah, surat kabar, dan sebagainya.” Ada banyak ahli jurnalistik/komunikasi yang mendefinsikan secara agak berbeda mengenai artikel. Dalam buku Menulis Artikel dan Karya Ilmiah (Totok  Djuroto dan Bambang Suprijadi, Menulis Artikel dan Karya Ilmiah, Bandung, Remaja Rosda Karya, 2003), Asep Syamsul M. Romli menyebut artikel sebagai sebuah karangan faktual (non-fiksi), tentang suatu masalah secara lengkap, yang panjangnya tidak ditentukan, untuk dimuat di surat kabar, majalah, bulletin dan sebagainya, dengan tujuan untuk menyampaikan gagasan dan fakta meyakinkan, mendidik, menawarkan pemecahan suatu masalah, atau menghibur. Sedangkan pada umumnya, artikel lebih sering didefinisikan sebagai pemikiran, pendapat, ide dan opini seseorang tentang pelbagai tema dan peristiwa. Dapat dikatakan bahwa semua tulisan di surat kabar atau majalah yang bukan berbentuk berita, bisa disebut artikel.

Secara garis besar, artikel bisa dibedakan menjadi beberapa jenis (Romli: 2003, hal.47-49):

  1. Artikel Deskriptif, adalah tulisan yang isinya menggambarkan  secara detail ataupun garis besar tentang suatu masalah, sehingga pembaca mengetahui secara utuh suatu masalah yang dikemukakan.
  2. Artikel Eksplanatif, adalah artikel yang isinya menerangkan sejelas-jelasnya tentang suatu masalah, sehingga si pembaca memahami betul masalah yang dikemukakan.
  3. Artikel Prediktif, adalah artikel yang berisi ramalan atau dugaan apa yang mungkin terjadi pada masa datang, berkaitan dengan masalah yang dikemukakan.
  4. Artikel Preskriptif,  adalah artikel yang isinya mengandung ajakan, imbauan, atau “perintah” bagi pembaca agar melakukan sesuatu. Kata-kata “harus”, “seharusnya”, “hendaknya”, “seyogianya”, dan semacamnya mendominasi tulisan jenis ini.

Secara sederhana dapat disimpulkan, artikel deskriptif menjawab pertanyaan “apa”. Artikel eksplanatif menjawab pertanyaan “kenapa”. Artikel prediktif menjawab pertanyaan “apa yang bakal terjadi”, dan artikel preskriptif menjawab pertanyaan “apa yang harus dilakukan”.

Dengan demikian, sebelum membuat artikel, kita harus lebih dahulu mengetahui topik apa yang akan kita ambil, sehingga nantinya ini akan berpengaruh pada substansi artikel itu sendiri, apakah prediksi, ajakan, eksplanasi atau cukup menggambarkan topik yang ada. Hal tersebut nantinya akan menentukan jenis artikel yang dibuat.

Selain mengikuti gaya penulisan yang digunakan oleh masing-masing penerbit surat kabar, ada beberapa gaya penulisan artikel (Djuroto dan Suprijadi, 2003: 91-92):

  • Gaya penulisan harus kritis, analitis dan eksplanatif bukan karangan fiksi.
  • Hindari penggunaan istilah/bahasa teknis ilmiah, gunakan bahasa ilmiah populer, disertai penjelasan dengan bahasa yang sederhana.
  • Alur pemaparan harus runtut dan logis.
  • Tulisan harus terfokus, terorganisasi, memiliki latar belakang yang jelas.
  • Tidak bertele-tele, bombastis atau malah vulgar.
  • Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Penggunaan bahasa asing atau bahasa daerah sebaiknya disertai padan kata atau penjelasan.
  • Tidak menggunakan ungkapan kalimat klise/normatif.

Sekali lagi, bagian ini sangat penting untuk diketahui oleh seseorang yang hendak menulis artikel. Bahwa gaya penulisan di atas merupakan gaya penulisan yang membedakan antara artikel dengan karangan ilmiah lain.